The Fullerton Hotel Singapore (Tugas Konservasi Bangunan Asia)

02172610-fullerton-concours-deleganza-1_cover_2000x1520

The fullerton hotel merupakan sebuah hotel merah yang berlokasi di dekat mulut Sungai Singapura, Downton Core, Central Area, Singapura. Gedung yang awalnya bernama The Fullerton Building dan General Post Office Building ini dibangun oleh arsitek Keys & Dowdeswell.

SEJARAH

Nama Gedung Fullerton diambil dari nama Robert Fullerton, gubernur pertama Negeri-Negeri Selat. Bangunan ini dibangun tahun 1924 kemudian selesai direnovasi sebagai bangunan lengkap pada tahun 1928. Sayap bangunan yang terdiri dari kamar-kamar tidur mulai diminati khalayak sesaat setelah Gubernur Shenton Thomas dan Lady Thomas tinggal disana setelah Istana diserang oleh pasukan lawan pada tahun 1942. Pada tahun 1950-an Plaza Fullerton merupakan lokasi dimana Mr. Lee Kuan Yew sering mengadakan kampanye-kampanye politik yang mengundang banyak perhatian masyarakat dan wisman yang sedang menikmati makan siang di Raffles Place. Dengan selesainya pembangunan pada tahun 1928, Bangunan Fullerton memulai fase barunya dalam mengukir sejarah. Restorasi sebuah benteng menjadi sebuah hotel memberikan Kota Singapura sebuah Landmark, yang kemudian lebih dikenalsebagai The Fullerton Singapore.

image

Memasuki perang dunia I dan II, gedung ini berkali-kali beralih fungsi dan antara tahun 1970-an sampai 1995, gedung ini menjadi markas Autoritas Pendapatan Dalam Negeri Singapura. Pada bulan Maret 1996, kantor pos di gedung ini berhenti beroperasi. Pada tahun 1997, Sino Land (Hong Kong) Company Ltd., membeli gedung ini dan mengubahnya menjadi sebuah hotel. Renovasinya selesai pada tanggal 8 Desember 2000. The Fullerton Hotel Singapore dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Goh Chok Tong pada 1 Januari 2001. Untuk memastikan bahwa gedung historis Fullerton Building ini tetap dapat dilihat dari Marina Bay, gedung di seberang jalannya dilarang melebihi tinggi tertentu. Hal ini juga untuk memastikan bahwa para tamu hotel ini dapat melihat laut tanpa halangan. Gedung 7 lantai ini dianugerahi status sebagai bangunan konservasi.

ARSITEKTUR

fullerton-bulding-evening

Fullerton Singapore memiliki asset yang tak ternilai  yaitu lokasi. Lokasi prima dari Fullerton Singapore di jantung Distrik Civic, sepadan dengan kekayaan sejarahnya. Lokasi  strategis karena terletak di  antara pusat kota lama dengan pusat kota baru Singapura. Selain lokasi  tersebut mengandung nilai sejarah yang tak ternilai, yang mampu menonjolkan Fullerton Singapore sebagai sebuah titik pusat aktivitas komersial pada hari-hari kerja diSingapura. Terletak di muka Raffles Place, distrik bisnis dan finansial yang terkenal, Fullerton Singapore sendiri tampak indah dengan kedekatannya pada pusat-pusat budaya sepertiTeater Victoria, Concert Hall, Teater Esplanade di Teluk dan museum-museum seni lainnya. Dari bangunan    inipun seorang dapat menikmati pemandangan ke arah Boat Quay, salah satu pusat aktivitas hiburan malam hari di Singapura.

INTERIOR HOTEL

Memiliki 400 kamar dan suite dengan masing-masing suasana dan interior tiap kamar hampir selalu berbeda dengan keistimewaannya sendiri-sendiri. Di beberapa kamar memiliki pemandangan matahari ke arah atrium, dan kamar lain memiliki balkon yang menghadap ke pemandangan kota ataupun Teluk Marina.

premier-quay-room-01_8_orig

Ruangan pada hotel ini menampilkan karakter yang sangat khas dan menonjol dengan kehadiran motif-motif klasik atau detail-detail tertentu. Pada saat renovasi interior bangunan, pemiliki hotel menginginkan penampilan bangunan mencerminkan “New Asia”, yang merupakan konsep yang sedang diunggulkan oleh Dewan Pariwisata Singapura pada masa itu. Andrew Moore, selaku Konsultan Hirsch Bedner mengatakan butuh waktu lama untuk menerjemahkan konsep dan ide tersebut ke dalam perancangan yang kontemporer dan progresif dengan mengurangi penekanan berlebihan pada peninggalan kolonialnya.

1473743350_The Fullerton Hotel Singapore - Red Pillar Post Box at Post Bar

Pemilihan warna-warna champagne dipadukan dengan coklat dan merah marun pada fabrik menghasilkan suasana hangat namun apik diterapkan pada ruang-ruang publik. Warna-warna ini dipilih untuk menyeimbangkan penggunaan batu alam yang merupakan material interior kolom-kolom internal yang begitu besar dan menonjol. Batu-batu alam tersebut merupakan material dasar kolom-kolom bangunan yang diimpor langsung dari Cina. Sementara pada material metal atau logam, pilihan warnanya bercorak dari warna tembaga (bronze) dan pada kusen-kusen jendela diberikan penonjolan frame dari marmer (diambil dari Jaune Duroi Marble) dengan warna-warna asli.

REDEVELOPMENT

Pada tahun 1997, Sino Land (Hong Kong) Company Ltd, sebuah perusahaan adik dari Far East Organization, mengakuisisi Gedung Fullerton dari Perkotaan Redevelopment Authority (URA). Ini menghabiskan hampir lain S $ 300 juta mengkonversi Gedung Fullerton ke hotel dan membangun dua lantai komersial yang kompleks One Fullerton berlawanan Jalan Fullerton. Renovasi dilakukan di Gedung Fullerton dan selesai pada tanggal 8 Desember 2000. The Fullerton Hotel Singapore secara resmi dibuka oleh Perdana Menteri Goh Chok Tong pada tanggal 1 Januari 2001.

RESTORASI 

Gedung Fullerton melakukan restorasi pada tahun 1998-2000. Kamar hotel yang dirancang oleh Hirsch Bedner Associates.  Selama pembangunan kembali, sebagian besar bangunan hotel dipertahankan dan dipulihkan. Beberapa fitur dari bangunan aslinya dikembalikan dan dipulihkan kembali. Dalam hal in termasuk Kantor Pos area galeri Umum di lantai dasar, dengan teluk yang berhubungan dengan kolom menjulang bangunan Doric pada fasad, dan Straits Club Room Billiard. Galeri kantor pos dihilangkan, dan diubah menjadi sebuah bar, restoran dan lobi hotel. The Straits Billiard Club Room tetap ada, namun tanpa panel kayunya.

03-former-fullerton-building

DAFTAR PUSTAKA

http://docplayer.info/30648344-Eskursi-preservasi-konservasi-renovasi-pada-pemeliharaan-bangunan-di-singapura-dan-malaysia-oleh-dra-rr-tjahjani-busono-mt.html

https://id.wikipedia.org/wiki/The_Fullerton_Hotel_Singapore

http://persemakmuran.blogspot.com/2013/01/the-fullerton-hotel-singapore.html

http://thelightninghands.blogspot.com/2015/06/konservasi-arsitektur-di-singapore-asia.html

Konservasi Arsitektur Pada Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung

Gedung merdeka adalah gedung bersejarah yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955. Kini gedung ini digunakan sebagai museum yang memamerkan berbagai benda koleksi dan foto Konferensi Asia-Afrika yang merupakan cikal bakal Gerakan Non-Blok pertama yang pernah digelar disini tahun 1955.

Museum Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu museum yang berada di kota Bandung. Museum ini merupakan memorabilia Konferensi Asia Afrika. Museum ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gedung Merdeka. Secara keseluruhan Gedung Merdeka memiliki dua bangunan utama, yang pertama disebut Gedung Merdeka sebagai tempat sidang utama, sedangkan yang berada di samping Gedung Merdeka adalah Museum Konferensi Asia Afrika sebagai tempat memorabilia Konferensi Asia Afrika.

 

SEJARAH

GEDUNG MERDEKAMG_8744

Societeit Concordia terletak di Jalan Asia Afrika No. 65, Bandung. Pembangunan bangunan Societeit Concordia atau yang sekarang dikenal sebagai Gedung Merdeka, berjalan seiring dengan rencana perpindahan ibu kota Hindia Belanda dari kota Batavia ke Bandung (1920). Untuk mendukung rencana tersebut, maka diwajibkan mendirikan fasilitas-fasilitas umum, seperti sekolah, stasiun, kantor pemerintahan, bank, pasar, bioskop, dan tempat hiburan serta infrastruktur kota.

Gedung Merdeka dibangun atas prakarsa para pengusaha Belanda, pemilik kebun teh, perwira, pembesar dan kalangan lain yang berasal dari Belanda serta berdomisili di Bandung. Gedung tersebut dijadikan sebagai tempat perkumpulan. Mereka mendirikan suatu perkumpulan yang bernama Societiet Concordia pada tanggal 29 Juni 1879, yang awalnya bertujuan sebagai tempat sosial, rekreasi, dan hiburan. Lokasi perkumpulan sebelumnya terletak di Warung De Vries.

Bangunan Societiet Concordia dibangun pada tahun 1895. Setelah bangunan tersebut selesai dibangun, perkumpulan Concordia berpindah tempat dari Warung De Vries dengan nama “Concordia”. Pada tahun tersebut tempat ini hanya berupa bangunan sederhana, yang sebagian dindingnya terbuat dari papan, dan penerangan halamannya memakai lentera minyak tanah. Bangunannya dibangun seperti layaknya warung kopi, karena sesuai dengan tujuannya, yaitu “…… de bevordering van gezellig verkeer” yang artinya sebagai tempat pertemuan, dimana mereka biasa berkumpul, duduk-duduk sambil minum teh. Pada tahun 1920, bangunan tersebut dibangun kembali dengan gaya arsitektur modern (Art Deco) yang fungsional dan lebih menonjolkan struktur. Arsitektur bangunannya dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Kegunaan gedung ini berubah menjadi gedung pertemuan “super club” yang paling mewah, lengkap, eksklusif, dan modern di Nusantara.

Societeit Concordia mengalami perombakan pada tahun 1940 dengan gaya arsitektur International Style, dengan arsitek A.F. Aalbers. Arsitek tersebut memiliki aliran yang berbeda, yaitu Nieuw Bouwen, sehingga bentuk bangunannya berbeda dari bangunan aslinya. Bangunan gaya arsitektur ini bercirikan dinding tembok plesteran dengan atap mendatar. Tampak depan bangunan berupa garis dan elemen horizontal, sedangkan bagian gedung bercorak kubistis. Pada masa pendudukan Jepang gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan.

 

Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 – 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. disini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya.

Dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia (1954) yang menetapkan Kota Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Concordia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut. Pada saat itu Gedung Concordia adalah gedung tempat pertemuan yang paling besar dan paling megah di Kota Bandung . Dan lokasi nya pun sangat strategis di tengah-tengah Kota Bandung serta dan dekat dengan hotel terbaik di kota ini, yaitu Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger

Dan mulai awal tahun 1955 Gedung ini dipugar dan disesuaikan kebutuhannya sebagai tempat konferensi bertaraf International, dan pembangunannya ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat yang dimpimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso, dan pelaksana pemugarannya adalah :

  • Biro Ksatria, di bawah pimpinan 

    R. Machdar Prawiradilaga

  • Alico, di bawah pimpinan M.J. Ali 3) PT. AIA, di bawah pimpinanR.M. Madyono

 

300px-Gedung.Merdeka

 

Pada tahun 1965 di Gedung Merdeka dilangsungkan Konferensi Islam Asia Afrika. Pada tahun 1971 kegiatan MPRS di Gedung Merdeka seluruhnya dialihkan ke Jakarta . Setelah meletus pemberontakan G30S, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan sebagai tempat tahanan politik G30S. Pada bulan Juli 1966, pemeliharaan Gedung Merdeka diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat, yang selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tiga tahun kemudian, tanggal 6 Juli 1968, pimpinan MPRS di Jakarta mengubah surat keputusan mengenai Gedung Merdeka (bekas Gedung MPRS) dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induknya, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak di bagian belakang Gedung Merdeka masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS.

Pada Maret 1980 Gedung ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25. Pada puncak peringatannya diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua.  Meskipun peringatan itu bersifat nasional, namun dalam kesempatan tersebut diundang pula tokoh-tokoh dari negara-negara Asia Afrika.

Ruang-Utama-Gedung-Merdeka-KAA-2015-464x241

Pada puncak acara peringatan, diresmikan berdirinya Museum Konperensi Asia Afrika oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto. Seluruh Gedung Merdeka ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai lokasi Museum Konperensi Asia Afrika, sebagaimana yang tertera dalam Prasasti Peresmian Museum Konperensi Asia Afrika serta Surat Keputusan Bersama Menteri Luar Negeri serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980 dan 1986.

MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA BANDUNG

gedung-merdeka

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 sampai dengan 24 April 1955 lalu mencapai kesuksesan besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia.

Karena adanya keinginan dari para pemimpin bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk mengetahui tentang Gedung Merdeka dan sekitarnya tempat Konferensi Asia Afrika berlangsung, hal ini membuat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M memiliki ide untuk membangun sebuah museum. Ide tersebut disampaikannya pada forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian museum ini diresmikan pada tanggal 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika.

Museum ini merupakan bukti bahwa Indonesia pernah berhasil diperhitungkan oleh warga dunia dalam kiprah internasionalnya. Di saat usia merdeka negara Indonesia masih belia, Indonesia sudah bisa membuat sebuah perkumpulan di mana dapat membuat pola pikir negara-negara yang masih terjajah ingin merdeka.

 

ARSITEKTUR GEDUNG

Jika dilihat lebih cermat arsitek C.P.W Schoemaker memberikan signature style Art Deco miliknya berupa selubung kaca lampu dekoratif yang terpasang pada area facade depan dari pintu masuk Gedung Merdeka. Tahun 1940 Societeit Concordia kembali mengalami perombakan dengan langgam arsitektur yang lebih baru pada zamannya yaitu Streamline Deco dengan bantuan arsitek A.F. Aalbers.

Tampak depan bangunan terdiri dari garis dan elemen horizontal yang menerus, sesuai dengan karakteristik dari Streamline Deco yang memanfaatkan garis dan bentuk-bentuk yang lebih dinamis dan asimetris dibandingkan dengan langgam Art Deco yang lebih rigid. Desain facade dari gedung kedua ini menggunakan layout denah ruangan berbentuk lingkaran seperti pada ruangan yang terletak pada sudut jalan. Secara bentuk kedua bangunan ini secara implisit menggambarkan fitur feminin dan maskulin pada wujud bangunan.

 

Ruang Lingkup

1). Pameran Tetap

Museum Konperensi Asia Afrika memiliki ruang pameran tetap yang memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Selain itu dipamerkan juga foto-foto mengenai :

  • Peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Konferensi Asia Afrika;
  • Dampak Konferensi Asia Afrika bagi dunia internasional;
  • Gedung Merdeka dari masa ke masa;
  • Profil negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika yang dimuat dalam multimedia.

Dalam rangka menyambut kunjungan Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi X Gerakan Nonblok tahun 1992 di mana Indonesia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut dan menjadi Ketua Gerakan Nonblok, dibuatlah diorama yang menggambarkan situasi pembukaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

MUSEUM_KONFERENSI_ASIA_AFRIKA

 

Penataan kembali Ruang Pameran Tetap “Sejarah Konperensi Asia Afrika 1955”

Dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 2005 dan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika 1955 pada 22 – 24 April 2005, tata pameran Museum Konperensi Asia Afrika direnovasi atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda. Penataan kembali Museum tersebut dilaksanakan atas kerja sama Departemen Luar Negeri dengan Sekretariat Negara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh Vico Design dan Wika Realty.

 

Rencana Pembuatan Ruang Pameran Tetap “Sejarah Perjuangan Asia Afrika” dan Ruang Identitas Nasional Negara-negara Asia Afrika (2008)

Departemen Luar Negeri RI mempunyai rencana untuk mengembangkan Museum Konperensi Asia Afrika sebagai simbol kerja sama dua kawasan dan menjadikannya sebagai pusat kajian, pusat arsip, dan pusat dokumentasi. Salah satu upayanya adalah dengan menambah beberapa ruang pameran tetap, yang memamerkan sejumlah foto dan benda tiga dimensi mengenai Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP) serta berbagai materi yang menggambarkan budaya dari masing-masing negara di kedua kawasan tersebut. Pengembangan museum ini direncanakan terwujud pada April 2008, bertepatan dengan Peringatan tiga tahun Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika.

2). Perpustakaan

Untuk menunjang kegiatan Museum Konperensi Asia Afrika, pada 1985 Abdullah Kamil (pada waktu itu Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London) memprakarsai dibuatnya sebuah perpustakaan.

Perpustakaan ini memiliki sejumlah buku mengenai sejarah, sosial, politik, dan budaya Negara-negara Asia Afrika, dan negara-negara lainnya; dokumen-dokumen mengenai Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya; serta majalah dan surat kabar yang bersumber dari sumbangan/hibah dan pembelian.

Bersamaan dengan akan diperluasnya ruang pameran tetap Museum Konperensi Asia Afrika pada April 2008, perpustakaan pun akan dikembangkan sebagai pusat perpustakaan Asia Afrika yang proses pengerjaannya dimulai pada 2007. Perpustakaan ini diharapkan akan menjadi sumber informasi utama mengenai dua kawasan tersebut, yang menyediakan berbagai fasilitas seperti zona wifi, bookshop café, digital library, dan audio visual library.

3). Audio Visual

Seperti juga perpustakaan, ruang audio visual dibuat pada 1985. Keberadaan ruang ini juga diprakarsai oleh Abdullah Kamil. Ruangan ini menjadi sarana untuk penayangan film-film dokumenter mengenai kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya, serta film-film mengenai kondisi sosial, politik, dan budaya dari negara-negara di kedua kawasan tersebut.

TAHAP PEMUGARAN

Museum KAA diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980, sebagai puncak peringatan 25 tahun KAA. Saat ini Museum KAA berada di bawah Kementerian Luar Negeri, menjadi UPT dari Direktorat Diplomasi Publik. Museum KAA menempati Gedung Merdeka, yang hingga saat ini menjadi milik DPR/MPR, dan berada di bawah pengawasan Sekretariat Negara. Pengelolaan gedung tersebut di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Museum KAA memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

42.-Museum-Konferensi-Asia-Afrika-Bandung

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://situsbudaya.id/gedung-merdeka-bandung/

http://edupaint.com/jelajah/arsitektur-nusantara/7589-arsitektur-museum-asia-afrika-bandung.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Merdeka

http://reyhanzidnyy.blogspot.com/2016/03/konservasi-gedung-merdeka.html

https://situsbudaya.id/museum-konferensi-asia-afrika-bandung/

http://kdratna.blogspot.com/2012/06/konservasi-arsitektur-museum-kaa.html

 

KONSERVASI KAWASAN BELANDA DI JALAN PEMUDA DEPOK

Di Indonesia terdapat banyak bangunan peninggalan penjajahan Belanda dengan gaya-gaya kolonial. Salah satunya yaitu terletak di Depok, tepatnya di Jl. Pemuda, Depok, Pancoran Mas, Kota Depok. Di sepanjang jalan ini tersebar bangunan-bangunan dengan gaya kolonial yang hingga sekarang masih berdiri dan dilestarikan. Bangunan-bangunan tersebut diperkirakan dibangun pada saat Cornelis Chastelein, seorang Belanda yang datang ke Depok bersama budak-budaknya.

image001
Peta Kota Depok Tahun 1901

A. Sejarah

Bangunan bersejarah dengan gaya kolonial pada Kota Depok berlokasi di Jalan Pemuda atau dahulu disebut Jalan Gereja (Kerk Streat) merupakan salah satu jalan tua dengan nuansa kolonial yang masih cukup terasa dan menjadi area pelintasan utama penghubung antar rumah-rumah warga di Depok Lama. Jalan Pemuda pada masa kolonial Belanda merupakan pusat keramain dan cikal bakal Kota Depok, sehingga banyak peninggalan-peninggalan dari jaman penjajahan Belanda yang masih dapat ditemukan, khususnya peninggalan-peninggalan dari Cornelis Chastelein.

Cornelis Chastelein merupakan seorang dari Belanda yang datang ke Depok bersama budak-budaknya yang nantinya akan dimerdekakan melalui kristiani. Diperkirakan ia datang ke Depok pada tahun 1714 dan mulai saat itu mulai membangun bangunan-bangunan mulai dari rumah, tempat ibadah, sekolah, dan lain-lain dengan pusatnya di Jalan Pemuda. Pada jalan ini juga terdapat tiang telepon antik yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1900.

Secara arsitektural, bangunan-bangunan kolonial Belanda di Jalan Pemuda ini memperlihatkan arsitektur kolonial Belanda yang unik dan menarik. Hal tersebut dapat dilihat dari fasad bangunan yang masih mencirikan arsitektur khas kolonial dan bangunan yang dibangun pada jaman kolonial ini rata-rata memiliki bentuk bangunan yang simetris, bertembok tebal, dengan langit-langit yang tinggi, di bagian depan terdapat pilar-pilar dengan tata ruang terbuka, beratap perisai dengan beranda luas, pintu dan jendela berukuran besar, dan didominasi warna putih. Namun semakin bertambahnya tahun, terjadi penurunan fungsi dan fisik bangunan yang ditandai dengan beberapa bangunan kolonial Belanda yang berubah fungsi bahkan ada beberapa bangunan kolonial Belanda yang dihancurkan.

B. Karakter Bangunan

Pada Jalan Pemuda terdapat 14 bangunan bersejarah yang kini dilestarikan. Letak ke 14 bangunan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1, yaitu :

slide4.jpg
Gambar 1 : Masterplan Kawasan Kota Lama Jl. Pemuda Depok
  • Rumah Presiden Depok
  • Rumah Sakit Harapan
  • Rumah Warga 1
  • Restoran Khasanti
  • Rumah Yantu Jonathans
  • SDN Pancoran Mas 2
  • Tempat Penyimpanan Yakult
  • Rumah Percontohan Depok
  • Rumah Warga 2
  • Gedung Pertemuan Immanuel
  • GPIB Immanuel Depok
  • Rumah Warga 3
  • Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC)
  • SMPN 1 Depok

Dari ke 14 bangunan tersebut terbagi kembali menjadi 4 kategori bangunan berdasarkan tampilan bangunan dan fungsi bangunan. Kategori tersebut yaitu :

  • Kategori A

Bangunan dengan bentuk tampilan yang masih asli (tidak mengalami perubahan secara keseluruhan) dengan fungsi yang masih sama. Bangunan yang termasuk pada kategori ini yaitu Rumah Presiden Depok, SDN Pancoran Mas 2, Rumah tinggal 1 dan 2;

  • Ketegori B

Bangunan dengan bentuk tampilan yang masih asli (tidak mengalami perubahan secara keseluruhan) namun memiliki fungsi baru (berbeda dengan fungsi sebelumnya). Bangunan pada kategori ini yaitu Rumah Sakit Harapan, Sekolah Katarsis Indonesia dan YLCC.

  • Kategori C

Bangunan yang mengalami perubahan tampilan (berupa penggantian atau penambahan beberapa bagian) dengan fungsi yang masih asli. Bangunan yang termasuk pada kategori ini adalah GPIB Immanuel Depok, Rumah Tinggal 3 dan SMP 1 Depok.

  • Kategori D

Bangunan yang mengalami perubahan tampilan (berupa penggantian atau penambahan beberapa bagian) dengan fungsi baru (berbeda dengan fungsi sebelumnya). Bangunan pada kategori ini yaitu Restoran Khasanti 16, SMU Kasih dan Rumah Yantu Jonathans.

 

a) Karakter Visual Eksterior Bangunan

  • Massa Bangunan1553534648417

Massa bangunan pada ke-4 kategori di Jalan Pemuda didominasi dengan bangunan tunggal yang berbentuk kubus serta ketinggian bangunan yang rata-rata terdiri dari satu lantai bangunan dan proporsi perbandingan lebar bangunan lebih besar dibandingkan dengan tinggi bangunan.

  • Atap

1553534666866

Bentuk atap pada ke-4 kategori bangunan di Jalan Pemuda Depok mencirikan bangunan kolonial Belanda, yang berbentuk perisai atau limasan. Atap perisai yang diadaptasi dari bentuk rumah tradisional Jawa dan penyesuaian bentuk atap yang dibuat miring. Selain itu yang juga menjadi ciri dari bentuk atap pada ke-4 kategori bangunan di Jalan Pemuda adalah terdapat anak atap dengan bentuk yang beragam, seperti bentuk perisai, pelana, atap segi lima dan enam.

Letak anak atap terdapat dibagian depan atau samping bangunan yang juga berfungsi untuk menaungi ruangan yang menjorok kedapan. Perubahan yang terjadi, yaitu adanya penambahan atap perisai atau pelana pada massa tambahan yang terletak dibagian belakang bangunan serta perubahan material atap yang lebih baru. Namun atap yang mengalami perubahan struktur maupun bentuk secara total, dibuat tidak jauh berbeda dengan bentuk atap bangunan kolonial yaitu berbentuk perisai, agar tidak menghilangkan karakter bangunan di Jalan Pemuda sebagai bangunan peninggalan kolonial Belanda.

  • Dinding Luar

Slide19

Elemen dinding eksterior yang masih asli terbuat dari tembok bata memilki ketebalan dinding 15 dan 30 cm yang merupakan ciri dari bangunan kolonial Belanda. Profil plesteran sangat umum ditemukan pada dinding bangunan kolonial di Jalan Pemuda Depok. Profil plesteran ini berupa garis-garis yang menonjol pada permukaan dinding, biasanya mengelilingi badan bangunan dan seperti membagi-bagi bidang dinding.

Perubahan pada dinding eksterior adalah adanya penambahan dinding dengan ketebalan 15 cm pada massa tambahan yang terletak dibelakang bangunan yang dibuat menyatu dengan dinding bangunan utama, namun tetap tidak merusak bentuk, struktur dan material dinding yang lama, serta perubahan pada warna cat dinding. Dinding eksterior yang mengalami perubahan total, karena adanya perluasan bangunan sehingga merubah dinding eksterior yang ada.

  • Pintu

1553534688988

Elemen Pintu eksterior didominasi dengan jenis pintu jalusi atau krepyak dan bentuk pintu berdaun ganda yang berlapis dua, hal ini sesuai dengan perkembangan arsitektur abad ke-20. Penggunaan jalusi pada pintu adalah ciri arsitektir tropis, sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap iklim tropis agar udara masuk ke dalam rumah. Serta pada bagian atas pintu terdapat lubang angin atau ventilasi dari kayu yang menyatu dengan kusen pintu.

Ornamen pada lubang angin seragam, ada yang berupa jalusi, berbentuk geometri persegi dan persegi panjang yang membentuk sebuah pola, ada juga yang berupa garis diagonal yang membentuk pola belah ketupat. Selain menggunakan jalusi, beberapa pintu juga menggunakan hiasan kaca patri.

Terdapat pintu tambahan yang terletak pada massa tambahan yang berupa pintu berdaun tunggal, yang memiliki bentuk pintu yang berbeda dengan pintu asli. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan pintu eksterior, yaitu mengalami perubahan pada bentuk dan material pintu yang sudah tidak sama dengan aslinya ataupun dibuat serupa dengan aslinya, serta terdapat penambahan dan letak pintu baru.

  • Jendela

1553534698596

Jendela eksterior yang masih asli juga didominasi dengan jenis jendela jalusi atau krepyak. Bentuk jendela berdaun ganda dan berlapis dua. Bagian luar jendela berupa jalusi atau krepyak dan bagian dalam jendela menggunakan hiasan kaca patri atau kaca transparan. Terdapat juga bentuk jendela berdaun ganda dan tunggal yang tidak berlapis dua, dengan ornamen pada jendela berupa jalusi atau krepyak.

Selain menggunakan jalusi, beberapa jendela juga menggunakan kaca patri. Perubahan pada jendela ekterior yaitu terdapat penambahan jendela baru pada massa tambahan, bentuk jendela baru biasanya berdaun tunggal ataupun berbentuk jendela mati yang memiliki bentuk yang berbeda dengan jendela asli. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan jendela, yaitu mengalami perubahan pada bentuk dan material yang sudah tidak sama dengan aslinya ataupun dibuat serupa dengan aslinya, serta terdapat penambahan dan letak jendela baru.

  • Kolom

1553534708387

Kolom pada bangunan memiliki bentuk yang sederhana (polos) dan didominasi dengan bentuk kolom persegi. Bentuk yang umumnya ditemukan berupa kolom dengan lapik (dasar) yang berpelipit. Selain itu juga terdapat kolom-kolom yang memilki hiasan profil plesteran pada bagian bawah dan atasnya yang sederhana.

Profil plesteran ini berupa garis-garis persegi panjang yang memberi kesan geometris. Selain kolom yang terbuat dari cor beton, juga terdapat tiang-tiang kayu dan tiang besi yang dipakai sebagai penyangga atap. Perubahan yang terjadi pada kolom yaitu perubahan warna cat pada kolom. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan kolom, yaitu perubahan bentuk dan material kolom serta terdapat penambahan kolom baru pada beberapa bagian.

  • Fasad

Komposisi fasade bangunan dari ke-4 kategori didominasi oleh bentuk geometri persegi panjang dan bentuk atap yang menangui bangunan. Kategori kesinambungan dari ke empat kategori memiliki kesinambungan pada ornamen yang menghiasi pintu, jendela dan kolom, sedangkan simetri dari ke empat kategori dapat dibedakan menjadi kelompok simetris dan asimeteris, antara lain:

  • Simetris, yaitu pada SDN Pancoran Mas 2, Kantor YLCC, rumah tinggal No. 51, GPIB Immanuel Depok, dan SMU Kasih.
  • Asimetris, yaitu pada rumah tinggal No. 11, rumah tinggal No. 45, rumah tinggal No. 52, Sekolah Katarsis Indonesia dan Restoran khasanti 16.
berusia-128-tahun-bangunan-sekolah-peninggalan-belanda-di-depok-rusak-berat-kSMvElTvx8
SDN Pancoran Mas 2 Depok

b) Karakter Visual Interior Bangunan

  • Dinding Interior

Dinding interior yang masih asli terbuat dari tembok bata memilki ketebalan dinding 15 dan 30 cm yang merupakan ciri dari bangunan kolonial Belanda. Ornamen pada dinding interior berupa lis garis horizontal pada bagian bawah dinding dengan dilapisi cat atau material ubin dan keramik.

Perubahan pada dinding interior adalah adanya penambahan dinding bata atau dinding partisi pada massa utama atau massa tambahan, serta perubahan warna cat dinding. Dinding interior yang mengalami perubahan total, karena adanya perubahan pada bentuk denah, sehingga terdapat penambahan dinding interior yang disesuaikan dengan bentuk denah baru

  • Denah

Secara keseluruhan denah pada ke-empat kategori bangunan mengalami perubahan. Perubahan yang tidak terlalu besar yaitu penambahan massa tambahan pada bagian belakang bangunan yang menyatu dengan bangunan utama, namun tidak merubah bentuk denah asli,serta terdapat penambahan ruang, seperti kamar mandi pada bangunan utama.

Perubahan yang paling besar, yaitu perluasan pada beberapa bagian angunan serta penambahan ruang yang lebih luas dengan membuat bangunan menjadi dua lantai, sehingga perubahan tersebut telah merubah denah dan bentuk asli bangunan.

  • Lantai

Pada ke-4 kategori bangunan bentuk lantai sudah mengalami perubahan secara keseluruhan, baik dari material, bentuk dan warna pada lantai. Material yang digunakan adalah keramik polos, dengan ukuran dan warna yang beragam. Namun masih terdapat beberapa bangunan dengan lantai yang masih asli. Lantai yang masih asli menggunakan ubin PC motif dan polos dengan ukuran 20×20 cm. Warna ubin yang sering digunakan adalah abu-abu dan kuning. Warna-warna lain seperti hijau, merah atau hitam biasanya digunakan sebagai variasi, yang disusun untuk membentuk bingkai pada bagian tepinya.

Pada ubin bermotif yang digunakan biasanya adalah motif-motif geometris dengan variasi bentuk, seperti pilin berganda, meander atau pinggir awan dan motif bunga. Serta terdapat ubin bermotif geometris dengan variasi bentuk, yang membentuk permadani pada bagian tengah ruangan. Ubin berpola permadani memiliki tiga jenis motif ubin yang berbeda untuk dipasang di bagian tengah, pinggir dan sudut. Ubin pada bagiann pinggir mempunyai desain khusus dan disusun menjadi bingkai, yang mengelilingi bagian tengah.

  • Plafon

Plafon pada ke-empat kategori bangunan sudah tidak asli dan mengalami perubahan, baik material, bentuk dan warna pada plafon. Awalnya plafon berupa gedeg (anyaman bambu), kemudian diganti dengan material seperti eternit, triplek dan gypsum. Kecuali pada rumah tinggal 2, masih ditemukan plafon asli berupa gedeg (anyaman bambu) pada beberapa ruang.

  • Pintu

Pintu-pintu interior tidak memiliki dua lapis daun pintu seperti pintu eksterior, namun tetap berupa dua daun pintu dan terdapat pintu berdaun tunggal. Bentuk daun pintu interior didominasi dengan ornamen geometri persegi dan persegi panjang, dengan material pintu terbuat dari kayu dan kaca patri.

Pada bagian atas pintu juga terdapat lubang angin atau ventilasi dari kayu yang menyatu dengan kusen pintu. Ornamen pada lubang angin seragam, ada yang berbentuk geometri persegi dan persegi panjang yang membentuk sebuah pola, ada juga yang berupa garis diagonal yang membentuk pola belah ketupat.

Terdapat pintu tambahan yang terletak pada massa tambahan yang berupa pintu berdaun tunggal. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan pintu interior, yaitu mengalami perubahan pada bentuk dan material pintu yang sudah tidak sama dengan aslinya ataupun dibuat serupa dengan aslinya, serta terdapat penambahan dan letak pintu baru.

c). Karakter Spasial Bangunan

Fungsi ruang

  • Bangunan kategori A dan C memiliki fungsi bangunan dan fungsi ruang yang tidak berubah sejak awal berdiri, namun terdapat penambahan ruang.
  • Bangunan kategori B dan D memiliki fungsi bangunan dan fungsi ruang yang sudah berubah serta terdapat penambahan ruang untuk menunjang fungsi baru. 2.

Organisasi Ruang

  • Hubungan ruang dari ke empat kategori bangunan memiliki kesamaan hubungan ruang yaitu ruang-ruang yang saling berdekatan. Namun terdapat penambahan hubungan ruang pada beberapa rumah, seperti rumah tinggal 2, Sekolah Katarsis Indonesia, YLCC, dan SMU Kasih. Penambahan yang terjadi yaitu terdapat penambahan ruang di dalam ruang sehingga hubungan ruang menjadi ruang di dalam ruang.
  • Alur sirkulasi dari ke empat kategori bangunan alur sirkulai yang mendominasi yaitu alur sirkulai linier dan alur sirkulasi grid.

Orientasi Ruang

  • Arah orientasi ruang pada bangunan utama dari ke empat kategori bangunan tidak mengalami perubahan.orientasi ruang berbeda sesuai dengan fungsi bangunannya, pada bangunan rumah tinggal menghadap ke ruang keluarga dan ruang makan, pada sekolah mengahdap ke dalam (ruang kelas), sedangkan bangunan publik, seperti kantor yayasan dan gereja mengahdap ke ruang yang berada di tengah. Orientasi ruang pada massa tambahan mengarah ke bangunan utama.

Orientasi Bangunan

  • Dari ke empat kategori bangunan memiliki arah orientasi bangunan yang sama dan tidak pernah berubah, yaitu mengarah ke Jalan Pemuda Depok.

 

C. Kesimpulan

Karakter visual pada ke empat kategori bangunan sangat dipengaruhi oleh elemen-elemen bangunan yang menjadi ciri bangunan kolonial Belanda. Pada karakter spasial dari ke empat kategori bangunan juga memiliki kesamaan pada tiap elemen yang menjadi ciri dari bangunan kolonial Belanda di Jalan Pemuda Depok. Berdasarkan arahan pelestarian pada ke-4 kategori, terdapat dua arahan pelestarian yang mendominan, yaitu arahan pelestarian preservasi dan arahan pelestarian rehabilitasi.

Bangunan bergaya kolonial Belanda di Jalan Pemuda kini banyak terdapat perubahan mulai dari bentuk dan material pada pintu dan jendela, serta penambahan ruang baru, pintu dan jendela pada ruang-ruang baru. Pada elemen lantai dan plafon juga mengalmi perubahan material, sehingga memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan aslinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/08/28/pembangunan-kawasan-kota-tua-depok-segera-terwujud-429374

http://ariesmarafanirasyid.blogspot.com/2018/06/konservasi-arsitektur-bab-3_7.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Cornelis_Chastelein

https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2016/10/21/jejak-sejarah-depok-terserak-di-jalan-pemuda-382824

https://media.neliti.com/media/publications/116001-ID-pelestarian-bangunan-kolonial-belanda-di.pdf

 

KONSERVARSI ARSITEKTUR

A. Pengertian

Konservasi menurut Wikipedia adalah pelestarian atau pelindungan. Konservasi Arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apresiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi. Berikut ini merupakan pengertian Konservasi Arsitektur menurut para ahli, yaitu :

  • Theodore Roosevelt (1902)

Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri dari kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian tentang upaya pemeliharaan apa yang kita punya secara bijaksana.

Pada awalnya konsep konservasi ini terbatas hanya pada benda-benda/monumen bersejarah. Namun telah berkembang di mana sasarannya tidak hanya mencakup monumen, bangunan atau benda bersejarah melainkan pada lingkungan perkotaan yang memiliki nilai sejarah serta kelangkaan yang menjadi dasar bagi suatu tindakan konservasi.

  • Sidharta dan Budihardjo (1989)

Konservasi merupakan suatu upaya untuk melestarikan bangunan atau lingkungan, mengatur penggunaan serta arah perkembangannya sesuai dengan kebutuhan saat ini dan masa mendatang sedemikian rupa sehingga makna kulturalnya akan dapat tetap terpelihara.

  • Danisworo (1991)

Konservasi merupakan upaya memelihara suatu tempat berupa lahan, kawasan, gedung maupun kelompok gedung termasuk lingkungannya. Di samping itu, tempat yang dikonservasi akan menampilkan makna dari sisi sejarah, budaya, tradisi, keindahan, sosial, ekonomi, fungsional, iklim maupun fisik.

B. Tujuan

Tujuan dari Konservasi Arsitektur yaitu :

  • Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
  • Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini.
  • Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu, tercermin dalam obyek pelestarian.
  • Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi Lingkup Kegiatan.

 

C. Jenis Konservasi

Menurut Highfield (1987: 20-21) pada konservasi arsitektur terdapat tingkatan perubahan pada tindakan pelestarian sebanyak 7 tindakan yaitu :

  • Perlindungan terhadap seluruh struktur bangunan, beserta dengan subbagian-bagian penyusunnya, dan memperbaiki finishing interior, utilitas bangunan, dan sarana-prasarana;
  • Perlindungan terhadap seluruh selubung eksterior bangunan, termasuk atap dan sebagian besar interiornya, dengan perubahan kecil pada struktur internal, dan memperbaiki finishing interior, utilitas bangunan, dan sarana saniter;
  • Perlindungan terhadap seluruh selubung eksterior eksisting, termasuk atap, dengan perubahan besar pada struktur internal serta perbaikan finishing, utilitas, dan sarana saniter. Perubahan besar pada struktur internal dapat melibatkan penambahan tangga beton bertulang yang baru, instalasi lift, demolisi dinding struktur pada interior secara skala yang lebih luas, atau penambahan lantai baru selama sesuai dengan ketinggian lantai aslinya;
  • Perlindungan seluruh dinding selubung bangunan, dan demolisi total pada atap dan interiornya, dengan membangun bangunan yang sama sekali baru di belakang fasad yang dipertahankan. Opsi ini dapat dilakukan pada bangunan yang terisolasi, seluruh dinding fasad eksternal layak untuk dilindungi, tapi pengembangan ke depannya menbutuhkan wadah untuk fungsi yang sama sekali baru, bebas dari elemen internal bangunan eksisting;
  • Perlindungan hanya pada dua atau tiga penampang/tampak bangunan eksisting, dan demolisi total terhadap sisanya, dengan pembangunan bangunan yang sama sekali baru di belakang dinding fasad yang dipertahankan. Opsi ini dapat dilakukan pada bangunan yang tapaknya terletak pada sudut pertemuan dua atau lebih jalan;
  • Perlindungan hanya pada satu penampang/tampak bangunan, sebuah dinding fasade dari bangunan eksisting, dan demolisi total terhadap sisanya, dengan membangun bangunan yang sama sekali baru di belakang dinding fasad. Opsi ini dapat dilakukan apabila bangunan tersebut hanya memiliki satu fasad yang penting, tampak bangunan yang penting tersebut menghadap jalan utama dan seluruh sisa tampaknya menempel pada bangunan di sekelilingnya; dan
  • Opsi paling drastis pada pengembangan kembali adalah dengan tidak memberikan pilihan untuk pelestarian, tetapi dengan demolisi total bangunan eksisting dan menggantinya dengan bangunan yang baru.

Continue reading “KONSERVARSI ARSITEKTUR”

BAB IV – KESIMPULAN (KRITIK ARSITEKTUR)

Bila dianalisis menggunakan metode kritik terukur dapat disimpulkan bahwa bangunan Guangxi Culture & Art Center merupakan bangunan yang didesain dan dibangun dengan baik dan detail mulai dari perencanaan konsep bangunan, penggunaan bahan material yang digunakan pada interior, struktur dan fasad bangunan. Hal tersebut memberikan dampak positif pada bangunan dalam penggunaan tiap ruangnya.

Bentukan fasad yang menggunakan rangka baja dan panel alumunium sebagai penutup menimbulkan kesan modern pada gedung. Jika dilihat dari tepi Sungai Yong yang berlawanan atau dari pendekatan melalui Jembatan Nanning, bentuk putih cemerlang dari pusat kebudayaan Nanning dan provinsi Guangxi yang luar biasa ini tampak penuh percaya diri, berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Tergantung pada sudut pandangnya, siluet bangunan berubah secara dinamis, membangkitkan asosiasi dengan formasi karst alami yang sangat khas dari lanskap Guangxi.

BAB III – PEMBAHASAN (KRITIK ARSITEKTUR)

Guangxi Culture & Art Center 

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

  • Arsitek : gmp Architects
  • Lokasi : Liangqing Qu, Nanning shi, Guangxi Zhuangzuzizhiqu, China
  • Fungsi Bangunan : Cinema
  • Luas Lahan : 113764 m²
  • Proyek Tahun : 2018

Pusat Seni & Budaya Guangxi di kota Nanning di Cina selatan telah dibuka secara resmi. Menyusul penyelesaian proyek serupa di Tianjin, Chongqing dan Qingdao, ini adalah teater besar keempat yang harus diselesaikan oleh Von Gerkan, Marg dan Rekan (GMP) di Cina. Nanning, ibukota provinsi Guangxi, sekarang memiliki jenis tempat yang, dengan program acara kebudayaannya yang luas, sangat populer di Cina dan dengan demikian menambah daya tarik kota. Menyusul selesainya pameran dagang dan pusat konferensi Nanning, ini adalah bangunan kedua GM untuk kota yang menambah penampilannya yang berbeda di kaki langit kota.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Tempat acara budaya ini adalah karya kedua yang dilakukan perusahaan Jerman gmp – Architekten von Gerkan, Marg dan Mitra – yang dilakukan di Nanning, ibukota Daerah Otonomi Guangxi Zhuang di Cina selatan. Tempat ini adalah teater dari jenis yang sangat populer di China dan berfungsi sebagai tempat untuk berbagai program musik dan budaya: selain karya-karya klasik dalam tradisi opera Eropa, acara termasuk konser, musikal, dan pertunjukan gala.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Tiga ruang konser telah diatur sebagai volume terpisah di atas sebuah bangunan batu berlapis alami yang mengakomodasi fungsi layanan. Gedung opera di barat daya dengan 1.600 kursi dan panggung 600 m² terbuka ke danau yang baru dibuat. Mengikuti tradisi rumah opera klasik, tempat duduk telah ditata dalam bentuk tapal kuda. Kios dan balkon dicapai melalui serambi dan penataan tangga. Permukaan panel kayu melengkung lembut menciptakan suasana interior yang hangat, dan waktu gema 1,5 hingga 1,8 detik memberikan kondisi akustik yang ideal.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Gedung konser dengan 1.200 tempat duduk terletak di sisi timur dan telah dirancang sebagai segi enam lonjong dengan area panggung bundar. Memiliki fitur organ dengan 64 register dan karenanya cocok untuk pertunjukan musik mulai dari musik skala kecil hingga konser simfoni oleh komposer seperti Bruckner. Garis-garis kayu lebar di dinding dan langit-langit memberikan tatanan ritme tertentu pada tampilan visual.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Aula terkecil, dengan 550 kursi, adalah aula multi-fungsi dan terletak di utara. Akustik yang dikontrol secara elektronik memastikan bahwa waktu gema dapat disesuaikan dengan variabilitas tak terbatas. Skenario panggung yang berbeda untuk pertunjukan musik, balet, dan teater serta peragaan busana dapat dibuat dengan bantuan platform angkat.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Tiga bangunan tempat disatukan oleh atap yang seolah-olah mengambang. Mirip dengan fasad, tampak sebagai struktur besar kisi-kisi, yang telah dibangun dengan substruktur rangka baja dan panel aluminium dilipat putih sebagai penutup. Jika dilihat dari tepi Sungai Yong yang berlawanan atau dari pendekatan melalui Jembatan Nanning, bentuk putih cemerlang dari pusat kebudayaan Nanning dan provinsi Guangxi yang luar biasa ini tampak penuh percaya diri, berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Tergantung pada sudut pandangnya, siluet bangunan berubah secara dinamis, membangkitkan asosiasi dengan formasi karst alami yang sangat khas dari lanskap Guangxi.

Denah

屏幕快照_2018-09-05_09.54.21屏幕快照_2018-09-05_09.53.59

Potongan

屏幕快照_2018-09-05_09.57.10屏幕快照_2018-09-05_09.56.49

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://www10.aeccafe.com/blogs/arch-showcase/2018/10/18/guangxi-culture-art-center-in-china-by-gmp-architects/

https://www.archdaily.com/901449/guangxi-culture-and-art-center-gmp-architects/5b8f4b50f197cc30e00000fa-guangxi-culture-and-art-center-gmp-architects-section-of-the-concert-hall

http://www.arquitecturaviva.com/en/Info/News/Details/12787

 

BAB II – METODE KRITIK (KRITIK ARSITEKTUR)

Dalam tugas ini penulis akan menggunakan metode normative terukur.

  • Metode Normatif Terukur

Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya secara teknis :

  1. Stabilitas Struktur
  • Daya tahan terhadap beban struktur
  • Daya tahan terhadap benturan
  • Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan
  • Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem
  1. Ketahanan Permukaan Secara Fisik
  • Ketahanan permukaan
  • Daya tahan terhadap gores dan coretan
  • Daya serap dan penyempurnaan air
  1. Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan
  • Kebersihan dan ketahanan terhadap noda
  • Timbunan debu

Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan.

Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “Man- Environment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

Persepsi Visual Lingkungan Fisik

Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

Sikap Umum Terhadap Aspek Lingkungan Fisik

  • Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi.
  • Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

Perilaku Yang Secara Jelas Dapat Diobservasi Secara Langsung Dari Perilaku Manusia.

Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb.

Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan.

Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.

BAB I – PENDAHULUAN (KRITIK ARSITEKTUR

Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah.

Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah.Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.

Kritik arsitektur merupakan tanggapan dari hasil sebuah pengamatan terhadap suatu karya arsitektur. Disitu orang merekam dengan berbagai indra kelimanya kemudian mengamati,memahami dengan penuh kesadaran dan menyimpannya dalam memori dan untuk ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan,ungkapan dan penggambaran dari benda yang diamatinya. Di dalam arsitektur terdapat 6 macam kritik arsitektur yaitu sebagai berikut :

  1. Kritik Deskriptif

Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota. Dimana pendekatan deskriptif ini lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jka kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan. Metode deskriptif ini tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekedar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya. Metode kritik deskriptif memiliki 3 jenis, antara lain:

  1. Depictive Criticism(Gambaran Bangunan)
  2. Dynamic(secara Verbal)
  3. Process(secara Prosedural)
  4. Biographical Criticism(Riwayat Hidup)
  5. Contextual Criticism( Persitiwa)

 

  1. Kritik Normatif

Kritik normatif merupakan mengkritisi sesuatu baik abstrak maupun konkrit sesuai dengan norma, aturan, ketentuan yang ada. Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip.

Melalui suatu prinsip, keberhasilan kualitas lingkungan buatan dapat dinilai. Suatu norma tidak saja berupa standard fisik yang dapat dikuantifikasi tetapi juga non fisik yang kualitatif. Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi. Kritik normatif perlu dibedakan dalam 4 metode, antara lain:

  • Metode Doktrin

Satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip tak terukur.

  • Metode Sistemik

Suatu norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan

  • Metode Tipikal

Suatu norma yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik

  • Metode Terukur

Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif

 

  1. KRITIK TIPICAL

Kritik tipikal (Typical Criticism) merupakan sebuah metode kritik yang termasuk pada Kritik Normatif (Normative Criticism). Kritik tipikal yaitu metode kritik dengan membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya, dalam hal ini bangunan publik. Adapun elemen dalam kritik tipical, antara lain:

  1. Structural(Struktur)

Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan material dan pola yang sama:

  • Jenis bahan
  • Sistem struktur
  • Sistem Utilitas dan sebagainya.
  1. Function(Fungsi)

Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama:

  • Kebutuhan pada ruang kelas
  • Kebutuhan auditorium
  • Kebutuhan ruang terbuka dsb.
  1. Form( Bentuk )

Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain. Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya, Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya. Keuntungan Kritik Typical adalah sebagai berikut :

  • Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu.
  • Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain
  • Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi.
  • Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama
  • Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain

 

Sementara itu kerugian kritik typical adalah sebagai berikut :

  • Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal
  • Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard
  • Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type
  • Tidak memeiliki pemikiran yang segar
  • Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

 

  1. Kritik Impresionis

Metode ini cenderung selalu berubah mengikuti perkembangan jaman dimana kritik-kritik yang ada umumnya cenderung mengambil suatu hal positif dari satu bangunan dan menerapkannya pada bangunan lain sebagai salah satu cara bereksplorasi. Kritik impresionistik dapat berbentuk:

  1. Caligramme: Paduan kata membentuk silhouette
  2. Verbal Discourse: Narasi verbal puisi atau prosa
  3. Painting: Lukisan
  4. Photo Image: Imagi foto
  5. Modification of Building: Modifikasi bangunan
  6. Cartoon: Fokus pada bagian bangunan sebagai lelucon

 

  • Keuntungan Kritik Impresionis
  • Membuat imajinasi tentang bangunan menjadi lebih bermakna
  • Merangsang orang untuk melihat lebih dalam ke arah makna dan arti bangunan
  • Membuat orang untuk melihat karya seni lebih teliti
  • Mampu meyederhanakan suatu analisis objek yang tadinya terasa kompleks
  • Membuat lingkungan lebih mudah dikenali

 

  • Kerugian Kritik Impreionis
  • Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur
  • Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain
  • Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung
  • Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur

 

  1. Kritik Interpretif

Kritik interpretif (Interpretive Criticism) yang berarti adalah sebuah kritik yang menafsirkan namun tidak menilai secara judgemental. Kritikus pada jenis ini dipandang sebagai pengamat yang profesional. Bentuk kritik cenderung subyektif dan bersifat mempengaruhi pandangan orang lain agar sejalan dengan pandangan kritikus tersebut. Dalam penyajiannya menampilkan sesuatu yang baru atau memandang sesuatu bangunan dari sudut pandang lain. Terdapat 3 jenis kritik interpretatif, yaitu:

  1. Kritik Evokatif (Evocative)– Kritik yang Membangkitkan Rasa

Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotografis (gambar).

  1. Kritik Advokatif (Advocatory)– Kritik yang Membela, Memposisikan Diri sebagai Arsitek Objek Kritik

Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempersona.

  1. Kritik Impresionis(Imppressionis Criticism) – Kritik Dipakai sebagai Alat untuk Melahirkan Karya Seni Baru

Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya.

Kritik impresionis dapat berbentuk:

  1. Caligramme: Paduan kata membentuk silhouette
  2. Verbal Discourse: Narasi verbal puisi atau prosa
  3. Painting: Lukisan
  4. Photo Image: Imagi foto
  5. Modification of Building: Modifikasi bangunan
  6. Cartoon: Fokus pada bagian bangunan sebagai lelucon

 

  1. Kritik Terukur

Kritik terukur menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu. Norma yang terukur digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini merupakan satu bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam yang diformulasikan untuk tujuan kendali rancangan arsitektural.

  1. Pengolahan melalui statistik atau teknik lain secara matematis dapat mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi arsitektur.
  2. Perbedaan dari kritik normatif yang lain adalah terletak pada metode yang digunakan yang berupa standardisasi desain yang sangat kuantitatif dan terukur secara amtematis.
  3. Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
  4. Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa:
  • Ukuran batas minimum atau maksimum
  • Ukuran batas rata-rata (avarage)
  • Kondisi-kondisi yang dikehendaki

 

 

Bukchon Hanok Village

BAB I

SEJARAH

 

Sejarah Bukcheon Hanok Village

Kampung Hanok Bukchon adalah sebuah kampung rumah tradisional Korea (hanok) di Seoul Korea Selatan. Bukchon bermakna Kampung Utara dikarenakan berlokasi disebelah utara Kali Cheonggye (Cheonggyecheon) dan Jongno. Perkampungan ini dulunya merupakan permukiman dan tempat tinggal para pejabat dan anggota keluarga kerajaan Dinasti Joseon. Letaknya pun berada diantara Istana Gyeongbok dan Istana Changdeok.

Tidak seperti desa tradisional lainnya, Bukchon tidak dibangun untuk wisatawan. Kampung ini memiliki lorong-lorong yang sempit dan menampilkan suasana kota Seoul pada masa lalu. Rumah-rumah para bangsawan di kampong ini masih terpelihara dengan baik, dan beberapa di antaranya menawarkan penginapan bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman kehidupan tradisional Korea.

Perubahan Buckhon

Pada akhir Dinasti Joseon, tanah skala besar dipartisi menjadi situs bangunan berukuran kecil untuk alasan sosial dan ekonomi. Diasumsikan bahwa hanok yang terletak berdekatan di desa dibangun kembali sekitar tahun 1930. Perubahan bentuk hanok mencerminkan kepadatan masyarakat karena urbanisasi di Korea dimulai pada waktu itu. Situs bersejarah Bukchon dan warisan budaya dari Dinasti Joseon hingga zaman modern memberi tahu pengunjung tentang sejarah daerah ini.

Dinasti Joseon

Salah satu ciri utama Bukchon adalah topografinya yaitu bentuk tanah dan aliran air. Bukcheon memiliki dataran rendah di selatan dan datarang yang lebih tinggi atau lebih curam di utara. Saat air mengalir di lembah, jalan utama di daerah ini sejajar dengan anak sungai. Jadi jalan di Bukcheon cenderung membentang dari utara ke selatan.

Selama Dinasti Joseon, Bukchon adalah kota lingkaran tinggi karena fitur geografisnya. Bahkan hari ini kita dapat menyaksikan di jalan-jalan seperti Samcheongdong-gil, Gahoe-ro, Gyedong-gil dan Changdeokgung-gil.

Desa ini adalah jantung dari Hanyang (nama lama Seoul) antara Gyeongbokgung (Istana) dan Changdeokgung (Istana) yang terletak di sisi selatan pegunungan. Menurut sensus pada tahun 1906, 43,6% dari 1.932 rumah tangga di Bukchon berasal dari keluarga bangsawan atau pejabat tinggi. Dari sini, kita dapat melihat bahwa orang kelas atas berkumpul di Bukchon pada waktu itu.

Bukchon Zaman Modern

  • Pada 1970-an

Dimulai dengan proyek pengembangan distrik Yeongdong di akhir 1960-an hingga awal 1970-an, daerah Gangnam (selatan sungai) di Seoul dimulai. Ketika orang-orang di daerah Gangbuk (utara sungai) mulai pindah ke daerah Gangnam, sekolah-sekolah di daerah Gangbuk juga dipindahkan ke daerah Gangnam.

Hyundai HQ Building dibangun pada tahun 1983, setelah pindah dari Whimoon High School pada tahun 1978. Transfer sekolah dan konstruksi bangunan baru adalah faktor kunci dalam mengubah lanskap Bukchon.

  • Pada tahun 1980-an

Perubahan lanskap menyebar dengan cepat dan hanok harus dilindungi. Perlindungan hanok dimulai pada tahun 1983. Namun, perlindungan saat itu dipimpin oleh pemerintah tanpa kesepakatan atau diskusi dengan warga. Berdasarkan aturan untuk melindungi hanok di desa tersebut, pemerintah menghancurkan banyak rumah hanok dalam membangun Bukchon Street. Itu sebabnya warga tidak terkesan dengan upaya perlindungannya.

  • Pada 1990-an

Mengikuti permintaan warga untuk meringankan standar konstruksi, Pemerintah Seoul mengurangi beberapa pembatasan. Misalnya, ketinggian bangunan yang baru diperbolehkan menjadi tiga lantai. Setelah itu, pembangunan beberapa bangunan perumahan menyebar dengan cepat.

  • Di tahun 2000an

Karena lanskap Bukchan yang berubah karena kehancuran hanok dan pembangunan bangunan berlantai banyak, Seoul Development Institute (SDI) mengeluarkan kebijakan baru untuk memperindah Bukchon. Dalam proses pembuatan kebijakan, SDI bekerja dengan penduduk, ahli, dan pejabat pemerintah.

Berbeda dari pembatasan sepihak sebelumnya, kebijakan baru ini membuat Data Pendaftaran Hanok menjadi sukarela dan mendorong orang untuk memperbaiki rumah mereka dengan dukungan pemerintah. Sejak tahun 2001, kebijakan tersebut telah memperindah Bukchon secara aktif melalui peningkatan lingkungan hidup dan meningkatkan daya tariknya sebagai tempat tinggal.

 

BAB II

JENIS-JENIS HANOK

Tipologi Bangunan Hanok

Tipologi pada bangunan Hanok adalah sebagai berikut :

  1. Hanok (한옥) model huruf Miem (ㅁ) atau Persegi192ebe235a7d055ee077d26cb90d8743

Hanok (한옥) model huruf Miem (ㅁ) ini adalah hanok (한옥) yang ruang-ruang bangunan rumah disusun seperti bangun bidang persegi, atau huruf Miem (ㅁ) dalam aksara Korea. Hanok (한옥) model ini membantu menghambat atau mengurangi angin dingin masuk ke bagian dalam rumah.

Rumah model huruf miem (ㅁ) ini adalah model rumah yang banyak dimiliki oleh rakyat biasa yang terdapat di wilayah Korea bagian utara dan bagian tengah.

  1. Hanok (한옥) model huruf Giyeok/giyôk (ㄱ) atau Nien (ㄴ) atau  letter L

Hanok (한옥) model huruf Nien (ㄴ) ini adalah model hanok (한옥) yang ruang-ruang bangunan rumah disusun seperti huruf L dalam abjad. Dalam aksara Korea (Hangeul ~ 한글) menyerupai huruf Giyôk (ㄱ) atau huruf Nien (ㄴ). Rumah model ini adalah model rumah rakyat biasa yang banyak terdapat di wilayah Korea bagian selatan yang lebih hangat.

  1. Model huruf  I (ㅣ) atau Letter IModel Rumah Korea

Model hanok (한옥) yang seperti huruf I (ㅣ) ini adalah model hanok (한옥) yang ruang-ruang bangunan rumah disusun seperti huruf I dalam abjad, atau huruf I (ㅣ) dalam aksara Korea.Rumah ini banyak dimliki oleh  para petani kecil yang terdapat di bagian tengah Korea. Di Pulau Jeju yang udaranya lebih hangat daripada di wilayah utara dan dan wilayah tengah juga banyak rumah yang model huruf I ini.

Jenis-Jenis Rumah Hanok

Terdapat beberapa macam jenis rumah hanok, yaitu sebagai berikut :

  1. Umjib (움집) ~ Dugout Huts1219736

Umjib (움집) adalah tipe rumah tradisional Korea yang berbentuk pondok berdinding jerami atau daun-daunan kering. Model rumah seperti ini sudah ada sejak zaman Neolitikum.Dengan model rumah seperti ini masyarakat Korea pada zaman bisa bertahan menghadapi dinginnya udara musim dingin. Penghangat udara adalah tungku yang terdapat di tengah-tengah pondok.

Rumah model ini (움집) ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Korea lama sejak zaman tiga kerajaan (삼국 시대~samguk sidê), karena mulai sejak zaman tersebut masyarakat Korea sudah tinggal di rumah model hanok (한옥) yang dikenal sekarang.

  1. Gwiteljib (귀틀집) ~ Log House640px-Valley_Forge_cabin

Gwiteljib (귀틀집) atau Log House adalah model rumah tradisional Korea yang dibuat dengan cara menyusun atau menumpuk batang-batang kayu secara horizontal, berderet dari bawah sampai ke atas.Untuk mentutupi rongga-rongga di sela-sela kayu, dan melindungi penghuni dari angin dingin, rongga-rongga tersebut dilapisi atau ditutup dengan tanah liat.

Gwiteuljib disebut juga dengan bangteuljib (방틀집) atau teulmokjib (틀목집). Rumah tradisional Korea yang seperti ini masih bisa dijumpai di Pulau ulleungdo dan beberapa daerah di daerah provinsi Gangwon.

  1. Neowajib (너와집) ~ Shingle Roof House4_dondogi

Neowajib/nôwajib (너와집) adalah jenis rumah tradisional Korea yang atapnya adalah atap sirap atau atap terbuat dari potongan-potongan kayu pinus merah.Ukuran potongan-potongan kayu ini adalah 30 cm x 60 cm dan ketebalan 4 cm atau 5 cm.

Kayu yang digunakan adalah kayu pohon pinus merah yang sudah berumur lebih dari 200 tahun. Keuntungan menggunakan atap dari potongan kayu ini adalah udara di dalam rumah tetap hangat pada saat musim dingin dan pada saat musim panas udara di dalam rumah tetap segar. Rumah model ini dulunya banyak terdapat di pegunungan Korea bagian tengah.

  1. Chogajib (초가집) ~ Thatced Roof Houseaa

Chogajib (초가집) adalah rumah tradisional Korea yang atapnya adalah berupa jerami, ilalang atau daun-daunan. Bahan atap yang paling banyak digunakan adalah jerami karena jerami banyak tersedia dan juga jerami menjaga rumah tetap hangat di musim dingan dan sejuk di musim panas.Rumah ini biasanya dimiliki oleh rakyat biasa. Dinding rumah chogajib (초가집) ini terbuat dari tanah dan dipagari oleh batu-batuan.

Di Korea bagian utara yang lebih dingin atap jeram dibuat lebih tebal dan bagian pinggirnya dibuat menggantug leih rendah. Sementara di Korea bagian tengah atau selatan yang lebih hangat, atap dibuat agak lebih tipis daripada di Korea bagian utara.

  1. Giwajib (기와집) ~ Tile Roof HouseNamsangol-Hanok-Village

Giwajib (기와집) adalah rumah tradisional masyarakat Korea yang atapnya terbuat dari genteng. Model rumah ini merupakan tempat tinggal kaum kelas atas seperti kaum bangsawan atau yangban (양반) pada masa Dinasti Joseon/Josôn (조선) berkuasa di semenanjung Korea.

Giwajib (기와집) ini dibangun berdasarkan prinsip-prinsip confusion yang dianut oleh masyarakat Joseon/Josôn (조선). Misalnya memisahkan ruangan antara ruanga kaum pria dengan ruangan kaum wanita dan anak-anak. Rumah model atap genteng atau giwajib (기와집) inilah yang kemudian kita kenal dengan sebutan hanok (한옥).

Bagian-Bagian Hanok

Bagian pada rumah Hanok adalah sebagai berikut :

  1. Cheoma/choma (처마)22001013

Cheoma/choma (처마) adalah bagian ujung  atap hanok yang melengkung. Choma/choma (처마) merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi hanok karena panjang atau ukuran choma (처마) menentukan jumlah sinar matahari dan angin yang masuk ke dalam rumah atau hanok (한옥).

Dengan demikian udara di dalam hanok pada saat musim dingin rumah tetap hangat sementara pada musim panas rumah tetap segar. Bentuk cheoma yang ujungnya melengkung dengan lembut merupakan salah satu bentuk artistik hanok yang membuat hanok terlihat indah.

  1. Bang (방)hanok1

Bang (방) adalah ruangan, maksudnya di sini adalah ruang-ruangan yang terdapat di dalam hanok. Ruang-ruangan di dalam hanok dibuat berdasarkan aturan-aturan konfusian yang berkembang di Korea.

Konfusian mengatur pemisahan ruangan di dalam rumah antara ruangan untuk pria yang disebut sarangbang (사랑방) dengan ruangan untuk wanita dan anak-anak anbang (안방).

  • Sarangbang (사랑방)445691_122836_474

Sarangbang (사랑방) adalah ruangan untuk kaum pria atau kepala keluarga. Ruangan ini posisinya berada di bagian paling depan bangunan rumah. Di sarangbang (사랑방) inilah kaum pria menerima tamu dan belajar.

Di rumah petani dan rumah rakyat biasa yang ukurannya tidak besar, untuk memisahkan ruangan pria (사랑방) dengan ruangan wanita dan anak-anak (안방) biasanya menggunakan byeongpung/byôngpung (병풍) atau folding screen.

Tetapi rumah kaum bangsawan yang besar biasanya memisahkan bangunan antara bangunan untuk kaum pria dan bangunan untuk kaum wanita dan anak-anak. Bangunan sarangbang (사랑방) yang terpisah ini dengan disebut dengan sarangchae atau sarangchê (사랑채).

Di dalam sarangbang ini terdapat rak buku, meja belajar yang diatasnya tersedia 4 sahabat ruangan pelajar atau yang dikenal dengan munbangsau (문방사우) atau  empat harta karun dalam belajar. Munbangsau (문방사우) ini adalah kertas, kuas, batang tinta dan batang tinta. Dan juga ada folding screen yang berisi lukisan Four Gracious Plants, yaitu plum blossom, chrysanthemum, Orchid dan bambu. Four gracias plants ini disebut dengan sagunja (사군자)

  • Anbang (안방)

Anbang (안반) dalah ruangan yang digunakan untuk kaum wanita dan anak-anak. Di sini tidak ada kaum pria termasuk suami sendiri. Ruangan ini digunakan kaum wanita (isteri) untuk beraktifitas dan pada malam hari berfungsi sebagai kamar tidur bersama suaminya.

Di ruangan ini terdapat lemari yang berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, dokumen, perlengkapan tidur seperti kasur dan selimut yang bisa dilipat dan disimpan. Di lantai juga ada kaca rias yang disebut gyeongdae/gyôngdê (경대) yang terdapat dalam kotak kecil.

Di dalam rumah yang lebih besar bangunan yang terpisah untuk kaum wanita disebut dengan anchae/anchê (안채).  Bangunan ini berfungsi sebagai bangunan utama rumah. Di dalam anchê (안채) ini ada ruang yang yang berada di depan anbang yang disebut dengan geonneonbang/ gônnônbang (건넌방).

  • Sarangdaecheong (사랑대청)

Sarangdaecheong (sarangdêchông ~ 사랑대청) adalah ruang terbuka atau bisa juga disebut dengan teras atau koridor yang beratap yang menghubungkan ruangan utama dengan bangunan depan yang menghadap ke halaman. Di sini biasanya digunakan keluarga untuk berkumpul dan mengadakan perayaan khusus seperti pernikahan.

  1. Bueok~buôk (부엌)

Bueok/buôk (부엌) adalah dapur. Posisi dapur lebih rendah sekitar 75 cm – 90cm daripada bangunan utama rumah. Tungku di dapur berfungsi sebagai tempat memasak juga berfungsi sebagai sumber pemanas tradisional (ondol ~ 온돌) bagi rumah-rumah tradisional Korea.

  1. Ondol (온돌)

Ondol (온돌) adalah sistem penghangat atau pemanas tradisional yang terdapat pada hanok. Tungku ondol biasanya terdapat di dapur yang sekaligus digunakan untuk memasak. Tetapi ada juga yang terdapat di bagian belakang rumah.

Di bawah lantai rumah tradisional korea yang lantainya dari kayu dibuat lorong yang digunakan sebagai aliran penghangat rumah pada saat musim dingin. Lorong untuk aliran yang menghangatkan rumah ini berpangkal pada bagian belakang tungku di dapur, menuju bawah lantai ruang keluarga dan kamar. Jadi dengan demikian rumah-rumah tradisional Korea tetap hangat selama musim dingin.

Rumah-rumah tradisional korea di Pulau Jeju tidak dilengkapi dengan pemanas ondol, seperti halnya rumah-rumah yang terdapat di wilayah utara dan tengah. Mereka memperoleh udara hangat pada saat musim dingin dengan cara memanfaatkan panas yang berasal dari dapur.

  1. Sadang (사당)

Sadang (사당), yaitu bangunan atau ruangan yang digunakan sebagai ruang abu atau ruang altar untuk arwah para leluhur yang sudah meninggal.

  1. Jangdokdae ~ jangdokdê (장독대)

Jangdokdê (장독대) adalah tempayan-tempayan tembikar yang digunakan untuk membuatan kimchi. Jangdokini adalah sebutan untuk onggi (옹기 ~ tempayan tembikar) untuk pembuatan kimchi dan doenjang, gochujang yang terletak di area halaman belakang atau samping rumah. Di Korea ada yang disebut dengan kimjang (김장) yaitu membuat kimchi pada saat musim gugur  untuk persediaan selama musim dngin. Sekarang sih sudah ada lemari es khusus kimchi.

  1. Soseldaemun ~ Soseldêmun (솟을대문)

Soseldêmun (솟을대문) adalah pintu gerbang utama hanok. Biasanya pintu gerbang yang seperti ini terdapat di rumah-rumah bangsawan atau yangban (양반).

 

Fasad dan Struktur

Struktur unik Hanok memang menjadi daya tarik utama desa ini. Hanok biasanya bertingkat dengan struktur yang terbuat dari tanah liat, kayu dan batu. Atap genteng yang melengkung disebut Giwa. Bagian dalam hanok biasanya terdiri dari banyak sekat yang memisahkan ruangan satu dengan yang lainnya.

  • Fasadmengintip-pemandangan-indah-di-desa-hanok-dengan-rumah20170710034415_495394868_3068_9694836_image2_1
  • Struktur 

    한옥의 구조1

    한옥구조4
    Atap
    한옥구조3
    Pondasi, Railing, Kolom, dan Dinding

    한옥구조2
    Pondasi, Kolom, dan Dinding

 

BAB III

LANDSCAPE DAN INTERIOR

 

  1. Landscapetumblr_mel06n0ET01qkyzm3o1_1280desain-rumah-sederhana-ala-korea-hanok20170710034415_495394868_3068_9192ebe235a7d055ee077d26cb90d87435529-hanok-rumah-tradisional-korea
  2. Interiord5b961ed50dc89c01c784ae4a842471f1499998056866005-03(193)

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://korea.panduanwisata.id/korea-selatan-wisata-asia/seoul/melintasi-buchok-hanok-village-desa-di-tengah-kota/http://blog.daum.net/bluewave/15675080https://m.blog.naver.com/PostView.nhn?blogId=nodlecha&logNo=221186008303&proxyReferer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fhttps://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Hanok_Bukchonhttp://nationalgeographic.co.id/berita/2015/12/bukchon-oase-di-tengah-seoul

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hukum Pranata Dan Pembangunan AMDAL Bab 3

Tugas Mata Kuliah Hukum Dan Pranata Pembangunan

Jurusan Teknik Arsitektur

Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

Nama = Fachri M Abror

Kelas = 3TB01

Npm = 27315660

Dosen = Agung Wahyudi

 

BAB III

STUDI KASUS

 Peristiwa Lumpur Lapindo ( PT Lapindo Brantas )

13385729811131128838
Lumpur Lapindo

 

Peristiwa lumpur lapindo terjadi pada tanggal 26 Mei 2006 tepatnya di Surabaya. Kejadian ini merupakan akibat kelalaian PT. lapindo brantas yang merupakan kontraktor pertambangan minyak melakukan kesalahan prosedur pengeboran. PT Lapindo Brantas telah lalai dalam melaksanakan dengan tidak memasang casing yang menjadi standar keselamatan pengeboran. Hal tersebut bertentangan dengan Pasal 39 ayat (2) dan (4) Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.

Kelalaian tersebut menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat merugikan masyarakat. Dampak yang terlihat dari aspek ekologis dan social. Dalam aspek social banyak masyarakat kehilangan rumah tinggal. Dalam aspek ekologis banyak sawah maupun perkebunan masyarakat yang ditenggelamkan oleh lumpur akbitanya mematikan perekonomian. Selain itu air sumur didaerah sekitar semburan lumpur tercemar dan tidak dapat digunakan masyarakat.

Selain melakukan perusakan lingkungan, berdasarkan hasil investigasi WALHI, selama melakukan usaha pertambangannya, Lapindo Brantas Inc. tidak memiliki AMDAL. Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, mengingat bahwa AMDAL merupakan prasyarat mutlak dalam memperoleh izin usaha, dalam hal ini adalah kuasa pertambangan. Kasus Lumpur Lapindo merupakan salah satu bentuk sengketa lingkungan yang harus segera diselesaikan.

 

Analisa

Kasus ini termasuk salah satu bencana nasional di Indonesia. Menurut analisis saya berdasarkan data yang ada, ditinjau dari Undang – undang No. 32 Tahun 2009, begitu banyak pelanggaran yang terjadi terhadap ketentuan hukum lingkungan. Seperti yang diuraikan dibawah ini :

  1. Pemanfaatan Sumber Daya Alam ( SDA ) tidak memperhatikan Lingkungan Hidup

Mengingat Lapindo Brantas Inc. tidak memiliki AMDAL maka berdasarkan UU No. 32 Tahun 2009 pasal 12 ayat ( 1 ), pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan RPPLH. Dan dalam pasal 12 ayat ( 2 ) dikatakan bahwa dalam hal RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum tersusun, pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan memperhatikan keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup, keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup, keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan kasus ini telah membuktikan bahwa Lapindo Brantas Inc. karena kelalaiannya telah menyebabkan pencemaran.

  1. Tidak Adanya Pengendalian Baik Oleh Pemerintah Maupun Penanggungjawab Usaha

Dalam UU No. 32 Tahun 2009 pasal 13 ayat ( 1 ), pengendalian pencemaran dan/atau kerusakanlingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dan dalam ayat ( 2 ) tertulis bahwa pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Dalam ayat (3) dikatakan pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-masing. Lapindo Brantas Inc. tidak melakukan pengendalian ini dan pemerintah sebelum terjadi semburan juga tidak melakukan upaya pengendalian yang maksimal hingga Lapindo Brantas Inc. yang tidak memiliki AMDAL dapat melakukan eksplorasi sumber daya alam di Sidoarjo saat itu.

  1. Lapindo Brantas Inc. Tidak Memiliki AMDAL

Berdasarkan hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup ( WALHI ), selama melakukan usaha pertambangannya, Lapindo Brantas Inc. tidak memiliki AMDAL. Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu pasal 14 dan 22 UU No. 32 Tahun 2009. Mengingat bahwa AMDAL merupakan  prasyarat mutlak dalam memperoleh izin usaha, dalam hal ini adalah kuasa pertambangan.

  1. Lapindo Brantaas Inc. Berperan Dalam Pencemaran Lingkungan Hidup

Lumpur sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat (Hg) air raksa, misalnya, mencapai 2,565 mg/liter Hg, padahal baku mutunya hanya 0,002 mg/liter Hg. Hal ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi kulit dan kanker. Kandungan fenol bisa menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar (cardiac aritmia), dan gangguan ginjal. Ini tidak sesuai dengan Pasal 20 UU No. 1 Tahun 2009 mengenai baku mutu lingkungan hidup.

  1. Tidak Maksimalnya Usaha Pemulihan Karena Putusan Pengadilan Yang Tidak Sesuai Dengan Aspek Kebenaran Hukum

Gugatan WALHI ditolak seluruhnya oleh Putusan PN Jakarta Selatan, kemudian di tingkat banding juga ditolak berdasarkan Putusan PT Jakarta yang menguatkan Putusan PN Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa semburan lumpur panas Lapindo disebabkan karena bencana alam. WALHI tidak mengajukan kasasi atas putusan PT Jakarta sehingga dianggap bahwa Putusan PT Jakarta telah in kracht. Selain WALHI, YLBHI juga mengajukan gugatannya kepada PN Jakarta Pusat, 27 November 2007, namun Putusan PN Jakarta Pusat mengatakan bahwa Pemerintah dan PT. Lapindo Brantas tidak melakukan Perbuatan Melawan Hukum. YLBHI mengajukan banding dan kasasi, yang masing-masing hasil putusannya juga menolak gugatan pihak YLBHI dan menyatakan bahwa Pemerintah dan PT. Lapindo Brantas tidak bersalah.

Dari putusan itu, dipertanyakan bagaimana identifikasi dari bencana alam dan bukan bencana alam. Kebenaran umum banyak membuktikan bahwa ini disebabkan kelalaian dari Lapindo Brantas Inc., namun apabila ini diputus sebagai bencana alam maka pertanggungjawabannya serta pemulihan menjadi dialihkan kepada Negarasesuai pasal 54 UU No. 32 Tahun 2009. Dengan itu apabila memang Lapindo Brantas Inc. yang menjadi penyebab dari pencemaran, ini berarti ia bebas untuk tidak bertanggungjawab atas kelalaiannya

  1. Pembuangan Lumpur Ke Laut Tidak Sesuai Dengan Pengelolaan Limbah B3

Lumpur yang menyembur di Sidoarjo, bukan lumpur biasa melainkan lumpur panas yang mengandung banyak bahan berbahaya. Apabila dibuang kelaut maka dapat mencemari ekosistem laut. Selain itu ini melanggar pasal 59 Undang – undang No. 32 Tahun 2009.

Pemerintah tidak melaksanakan PPLH dalam pasal 63, Lapindo Brantas Inc melanggar hak – hak dalam pasal 65, tidak melaksanakan kewajiban pada pasal 67 – 69, Pemerintah tidak melakukan pengawasan dan sanksi administrative.

Dampak

porongsebelumlapindo
Foto Satelit Porong Sidoarjo, Jawa Tengah (14 Agustus 2005)
(diambil sebelum bencana lumpur lapindo terjadi)
porongsessudahlapindo
Foto Satelit Porong Sidoarjo, Jawa Timur (7 Agustus 2006) 
(diambil sesudah bencana lumpur lapindo terjadi)

Akibat kasus tersebut, terdapat beberapa dampak yang merugikan baik bagi lingkungkan maupun warga sekitar. Berikut merupakan dampak akibat pencemaran luapan lumpur lapindo, yaitu:

  • Terhadap Lingkungan

Akibat Dampak luapan Lumpur Panas, mengakibatkan banyaknya lingkungan fisikyang rusak. Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong. Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur.

Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit. Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan.

 

  • TerhadapKesehatanMasyarakatSidoarjo

ISPA menempati peringkat teratas penyakit yang dikeluhkan masyarakat. Namun pada tahun 2007 (setahun setelah menyemburnya lumpur lapindo) terjadi peningkatan tajam jumlah penderita sampai mencapai puncaknya tahun 2009 yakni 52 ribu lebih penderita.

Menurut penelitian WALHI Jawa Timur, Lumpur lapindo mengandung senyawa PAH yang bisa mengakibatkan:

 

  • Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan kulit
  • Kanker
  • Permasalahan reproduksi
  • Membahayakan organ tubuh seperti liver, paru-paru, dan kulit

 

 

SUMBER REFERENSI :

–     http://bernadetharatnasari.blogspot.co.id/2017/01/analisis-mengenai-dampak-lingkungan.html

–     http://kuliah-hukum-d.blogspot.co.id/2014/02/analisis-kasus-lingkungan-lumpur.html

–     http://msp110302002amdal.blogspot.co.id/2014/10/arief-analisis-dampak-lingkungan-lumpur.html

–     http://windasetianingsih.blogspot.co.id/2017/01/hukum-pranata-pembangunan.html?m=1