Month: October 2016

Bangunan Eco Green

Konsep eco-green harus diterapkan secara komprehensif pada desain rumah sejak pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi untuk hasil yang maksimal. Salah satu yang perlu diterapkan pada konsep eco-green adalah penggunaan energi seminimal mungkin.

F-Ascent-BTS-Fig2-May2015.jpg

Mewujudkan konsep green living ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pemilihan material bangunan dan pemilihan desain rumah. Untuk bangunan baru, dua pendekatan ini lebih mudah diterapkan. Material bangunan berupa bahan-bahan alami yang bersumber dari daerah lokal, pemilihan cat yang ramah lingkungan, memilih alat-alat hemat listrik, misal lampu LED atau T5.

Untuk desain rumah yang terpenting pada efektifitas model rumah dengan  melihat lokasi sinar matahari dan angin untuk memanfaatkan energi alam. Selanjutnya,desain rumah akan dirancang dengan memaksimalkan material, pandangan, dan ventilasi. Pengaturan pencahayaan merupakan poin utama karena dengan memaksimalkan pencahayaan alami akan menghemat energi listrik. Begitupun dengan pengaturan ventilasi untuk mengurangi penggunaan mesin penyejuk ruangan. Sehingga setiap bangunan dapat memanas atau mendinginkan rumah secara otomatis.

Selain pencahayaan dan ventilasi masih ada tips desain rumah lain untuk model rumah eco-green ini seperti memodifikasi pagar rumah yang semula desain beton menjadi pagar hidup. Pagar hidup ini tidak harus rumput tapi juga bisa berupa tanaman sayur atau buah merambat. Selain itu jika ingin membuat kanopi untuk kebun juga dapat diganti dengan tanaman anggur atau pohon jenis daun lebar dan rindang.

Sementara untuk bangunan yang sudah jadi (existing building), desain rumah dapat menggunakan pendekatan ekonomi dan bisnis, seperti penggantian interior dan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan dan hemat energi. Seperti penggantian lampu ke jenis LED, televisi ke jenis LCD, tempat sampah non-organik ke tempat sampah kompos.

Prinsip-prinsip Green Architecture

Penjabaran prinsi-prinsip green architecture beserta langkah-langkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future:

  1. Conserving Energy (Hemat Energi)

Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan dengan sedikit mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkannya kembali. Solusi yang dapat mengatasinya adalah desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:

  • Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi listrik.
  • Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaicyang diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.
  • Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah. Selain itu juga menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.
  • Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
  • Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.
  • Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
  • Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
  1. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)
  • Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya dengan cara:
  • Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
  • Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
  • Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat kolam air di sekitar bangunan.
  • Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
  1. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)

Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.

  • Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
  • Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
  • Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.
  1. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)

Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.

  1. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)

Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya

  1. Holistic

Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecturepada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secar parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.

Bangunan Eco Green

EDITT Tower Singapore

editt03.jpg

Singapura akan memiliki bangunan yang indah tinggi dengan perusahaan EDITT Tower (Ecological Design in the Tropics). Proyek ini akan dibangun dengan dukungan finansial dari National University. Desain menara ini terdiri dari 26 lantai dengan panel fotovoltaik.

EDITT Tower akan menjadi teladan “Desain Ecological In The Tropics”. Dirancang oleh TR Hamzah & Yeang dan disponsori oleh National University of Singapore, 26-cerita bertingkat tinggi akan membanggakan panel fotovoltaik, ventilasi alami, dan biogas generasi tanaman yang dibungkus dalam sebuah dinding hidup isolasi yang mencakup setengah dari luas permukaan. Gedung pencakar langit hijau dirancang untuk meningkatkan keanekaragaman hayati lokasi dan merehabilitasi ekosistem lokal di Singapura ‘zeroculture’ metropolis.

editt.JPG

t.r. hamzah & yeang, gedung pencakar langit yang berkelanjutan, menara editt, arsitektur berkelanjutan singapore, dinding hidup, tenaga surya, tenaga biogas, green building

Sekitar setengah dari luas permukaan EDITT Menara akan dibungkus dalam vegetasi lokal organik, dan arsitektur pasif akan memungkinkan untuk ventilasi alami. Publik landai diakses akan menghubungkan lantai atas ke tingkat jalan berjajar di toko-toko, restoran dan kehidupan tanaman. Bangunan juga telah dirancang untuk adaptasi di masa depan, dengan banyak dinding dan lantai yang dapat dipindahkan atau dihapus. Di sebuah kota yang dikenal untuk hujan, bangunan akan mengumpulkan air hujan dan mengintegrasikan sistem abu-air untuk kedua irigasi tanaman dan toilet disiram dengan perkiraan 55% swasembada.

editt02.jpg

855 meter persegi panel fotovoltaik akan menyediakan 39,7% dari kebutuhan energi bangunan, dan rencana ini juga mencakup kemampuan untuk mengubah limbah menjadi biogas dan pupuk. Menara ini akan dibangun menggunakan banyak bahan daur ulang dan dapat didaur ulang, dan sistem daur ulang terpusat akan dapat diakses dari setiap lantai.

Referensi

Analisa Arsitektur Klasik & Modern

ARSITEKTUR KLASIK

Arsitektur klasik Eropa adalah gaya bangunan dan teknik mendesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani, seperti yang digunakan di Yunani kuno pada periode Helenistik dan Kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya yang berasal dari Yunani.

Saat orang berpikir tentang arsitektur klasik, umumnya mereka berpikir sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, batu, dll. Dalam beberapa kasus hal tersebut benar, namun arsitektur klasik juga banyak memiliki napas modern dan desain gedung yang rumit. Misalnya, atap, tiang, bahkan struktur batu atau marmer dibuat dengan detail sempurna.

Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di benua Eropa. Dalam beberapa alasan, jenis arsitektur ini dibangun dengan tiga fungsi:

  Sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal)

  Sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan)

  Tempat berkumpul (fungsi balai kota, dsb)

Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit.

Seiring waktu berlalu, bangunan menjadi lebih rumit dan lebih rinci. Beberapa peradaban yang tumbuh dari batu dan lumpur turut memperkaya ragam bentuk Arsitektur Klasik, misalnya candi dan kuburan orang-orang Mesir.

Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern. Pilar-pilar besar, bentuk lengkung di atas pintu, atap kubah, dsb adalah sebagian ciri Arsitektur Klasik. Ornamen-ornamen ukiran yang rumit dan detail juga kerap menghiasi gedung-gedung yang dibangun di masa sekarang.

  1. Temple of Apollo Epicurius

epikourios

Kuil Apollo Epicurius adalah kuil Yunani tidak biasa. Hal itu dapat terlihat karena kuil ini memiliki tiga pilar perintah yang digunakan dalam arsitektur Yunani kuno. Diantaranya dalah pilar Doric, Iconic dan Corinthian.

  1. Doric Temple of Segesta

greek-temple-segesta-sicily

Kuil Segesta adalah salah satu contoh hasil arsitektur klasik lainnya. Hal itu dapat terlihat pada penggunaan kolom-kolom besar yang bercorak Yunani kuno. Dan kuil ini memiliki 6 x 14 pilar Doric.

  1. Colosseum

hungry-history-vomitoriums-fact-or-fiction_corbis-e

Colosseum adalah sebuah hasil arsitektur klasik pada jaman romawi, ciri khasnya ada pada bentukan busur – busur lengkung antar kolom dan bentuk dari bangunan tersebut yaitu lingkaran.

  1. Pantheon Romawi

depan-pantheon.jpg

Pantheon dibangun pada jaman romawi, tempat ini digunakan sebagai tempat penyembahan dewa. pada jaman itu kolom-kolom besar dan kokoh digunakan sebagai simbol kekuatan.

 

ARSITEKTUR MODERN

Arsitektur modern adalah sebuah sesi dalam perkembangan arsitektur di­mana ruang menjadi objek utama untuk diolah. Jika pada masa sebelum­nya arsitektur lebih memikirkan bagaimana cara mengolah façade, orna­men, dan aspek-aspek lain yang sifatnya kualitas fisik, maka pada masa arsitektur modern kualitas non- fisik lah yang lebih dipentingkan. Fokus dalam arsitektur modern adalah bagaimana memunculkan sebuah gaga­san ruang, kemudian mengolah dan mengelaborasinya sedemikian rupa, hingga akhirnya diartikulasikan dalam penyusunan elemen-elemen ruang secara nyata.

 

Ciri-ciri Arsitektur Modern Berikut adalah karakteristik dari bangunan bergaya Arsitektur Modern (Brunner T. DKK, 2013) :

  • Satu gaya Internasional atau tanpa gaya (seragam), merupakan suatu arsitektur yang dapat menembus budaya dan geografis.
  • Penggunaan material dan bahan pada bangunan arsitektur modern tidak terlepas dari unsur fungsional, dimana bahan dan material yang digunakan harus mendukung fungsi bangunan secara keseluruhan.
  • Bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monotone karena tidak diolah.
  • Anti ornamen, menganggap ornamen yang ada pada bangunan tidak memiliki fungsi baik secara struktur maupun non struktur, sehingga ornamen dihilangkan dan dianggap suatu kejahatan dalam desain.
  • Penekanan elemen vertikal dan horizontal masih berhubungan dengan penggunaan ornamen yang diangggap sebagai suatu kejahatan, maka bangunan-bangunan dengan langgam Arsitektur Modern menggunakan penekanan elemen vertikal dan horizontal pada bangunannya sebagai pengganti ornamen, guna menambah estetika dan keindahan bangunan
  • 6 Ekspresi terhadap struktur sebagai elemen arsitektur yang memberikan bentuk kepada tampak bangunan, sehingga menciptakan ruang pada kulit bangunan. Hal ini lebih dikenal dengan istilah Skin and Bone. Skin and bone merupakan salah satu ide desain dari langgam Arsitektur Modern yang mengedepankan kepolosan dan kesederhanaan dalam olah bentuk bangunan dengan cara menonjolkan struktur bangunan.
  • Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap arsitektur tersebut.
  • Tidak memiliki suatu ciri individu dari seorang arsitek, sehingga tidak dapat dibedakan antara arsitek yang satu dengan yang lainnya.
  • Jenis bahan/material yang digunakan diekspos secara polos, ditampilkan apa adanya. Terutama bahan yang digunakan adalah beton, baja dan kaca.
  • Nihilism, penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidang-bidang kaca lebar. Tidak ada apa-apanya kecuali geometri dan bahan aslinya.
  • Menyederhanakan bangunan sehingga format detail menjadi tidak perlu.
  • Bangunan Arsitektur Modern menganut paham form follow function dimana bentuk yang dihasilkan mengikuti fungsi dari bangunan.

 

  1. Maison La Roche, Paris – Le Corbusier dan Pierre Jeanneret

maison-la-roche-jeanneret-le-corbusier-paris-residence-art-exhibition-unesco-world-heritage-list_dezeen_936_0-468x369

Maison La Roche dikatakan bangunan modern karena bangunan tersebut tidak memiliki corak atau pilar-pilar besar seperti pada bangunan klasik. Bentuknya cukup sederhana dan menyesuaikan dengan fungsi. Banyak jendela besar dan lebar di atas dan disamping. Jendela ini bentuknya tidak lagi seperti dinding dilubangi pada bangunan klasik, tetapi berupa bidang membentuk komposisi horizontal-vertikal (terdiri dari bidang kaca dan rangka aluminium).

 

  1. “Health House”, Villa for Philip Lovell in Los Angeles – Richard Neutra.

7bdfef99a007ce5dac5e4facd11e64f8

Bangunan ini dikatakan modern karena bentuknya yang sederhana serta penggunaan material baja yang ringan perpaduan dengan beton bertulang.

Jendela berkerangka baja dengan berbagai bentuk dan ukurannya, semuanya menyatu dengan konstruksi dinding dan balustrade putih, horizontal berkesan ringan melayang. Bentuk tiga dimensional dari lantai dan dinding menjorok ke luar dari balkon, lantai atas dan atap datar semakin terlihat bila timbul warna gelap dan terang oleh bayangan matahari. Merupakan penerapan dari konsep Cubism. Prinsip kesederhanaan ungkapan dari fungsional dan purism terlihat pula pada ruang dalamnya.

 

  1. Villa Schminke in Lobau, Saxony – Hans Scharoun.

a93e416129acba84f8e2aa3604d8c416.jpg

Kesan modern sangat terlihat karena penggunaan material kaca dengan bukaan besar dan lebar, menggunakan kusen dan rangka alumunium banyak mendominasi bangunan ini. Sederhana namun elegan. Pada bagian taman terdapat kaca dengan kemiringan tertentu, untuk men-dapatkan sinar bagi tanaman. Lingkaran-lingkaran pada atap datar diwarnai dengan lampu-lampu yang memantulkan sinarnya pada kolam taman di malam hari.

 

  1. German Pavilion at the International Exhibition in Barcelona – Ludwig Mies van der Rohe.

pabellon_alemania

Contoh lain dari hasil arsitektur bergaya modern adalah pada bangunan ini. Semua dinding jendela dan pintu utuh dari atas sampai bawah membentuk bidang-bidang vertikal. Atap datar dari beton bertulang berwarna kontras dengan dinding dalam komposisi keseluruhan menjadi unsur horizontal, seolah melayang ringan di atas dinding kaca dan marmer. Selain itu kolam di dalam dengan karakter dan warna air, juga menjadi elemen bidang horizontal dalam komposisi ini. Dalam rancangannya terlihat kederhanaan dan kemurnian dan kesatuan ruang luar-dalam, komposisi blok, kotak dan kubus.