Month: February 2019

BAB IV – KESIMPULAN (KRITIK ARSITEKTUR)

Bila dianalisis menggunakan metode kritik terukur dapat disimpulkan bahwa bangunan Guangxi Culture & Art Center merupakan bangunan yang didesain dan dibangun dengan baik dan detail mulai dari perencanaan konsep bangunan, penggunaan bahan material yang digunakan pada interior, struktur dan fasad bangunan. Hal tersebut memberikan dampak positif pada bangunan dalam penggunaan tiap ruangnya.

Bentukan fasad yang menggunakan rangka baja dan panel alumunium sebagai penutup menimbulkan kesan modern pada gedung. Jika dilihat dari tepi Sungai Yong yang berlawanan atau dari pendekatan melalui Jembatan Nanning, bentuk putih cemerlang dari pusat kebudayaan Nanning dan provinsi Guangxi yang luar biasa ini tampak penuh percaya diri, berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Tergantung pada sudut pandangnya, siluet bangunan berubah secara dinamis, membangkitkan asosiasi dengan formasi karst alami yang sangat khas dari lanskap Guangxi.

BAB III – PEMBAHASAN (KRITIK ARSITEKTUR)

Guangxi Culture & Art Center 

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

  • Arsitek : gmp Architects
  • Lokasi : Liangqing Qu, Nanning shi, Guangxi Zhuangzuzizhiqu, China
  • Fungsi Bangunan : Cinema
  • Luas Lahan : 113764 m²
  • Proyek Tahun : 2018

Pusat Seni & Budaya Guangxi di kota Nanning di Cina selatan telah dibuka secara resmi. Menyusul penyelesaian proyek serupa di Tianjin, Chongqing dan Qingdao, ini adalah teater besar keempat yang harus diselesaikan oleh Von Gerkan, Marg dan Rekan (GMP) di Cina. Nanning, ibukota provinsi Guangxi, sekarang memiliki jenis tempat yang, dengan program acara kebudayaannya yang luas, sangat populer di Cina dan dengan demikian menambah daya tarik kota. Menyusul selesainya pameran dagang dan pusat konferensi Nanning, ini adalah bangunan kedua GM untuk kota yang menambah penampilannya yang berbeda di kaki langit kota.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Tempat acara budaya ini adalah karya kedua yang dilakukan perusahaan Jerman gmp – Architekten von Gerkan, Marg dan Mitra – yang dilakukan di Nanning, ibukota Daerah Otonomi Guangxi Zhuang di Cina selatan. Tempat ini adalah teater dari jenis yang sangat populer di China dan berfungsi sebagai tempat untuk berbagai program musik dan budaya: selain karya-karya klasik dalam tradisi opera Eropa, acara termasuk konser, musikal, dan pertunjukan gala.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Tiga ruang konser telah diatur sebagai volume terpisah di atas sebuah bangunan batu berlapis alami yang mengakomodasi fungsi layanan. Gedung opera di barat daya dengan 1.600 kursi dan panggung 600 m² terbuka ke danau yang baru dibuat. Mengikuti tradisi rumah opera klasik, tempat duduk telah ditata dalam bentuk tapal kuda. Kios dan balkon dicapai melalui serambi dan penataan tangga. Permukaan panel kayu melengkung lembut menciptakan suasana interior yang hangat, dan waktu gema 1,5 hingga 1,8 detik memberikan kondisi akustik yang ideal.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Gedung konser dengan 1.200 tempat duduk terletak di sisi timur dan telah dirancang sebagai segi enam lonjong dengan area panggung bundar. Memiliki fitur organ dengan 64 register dan karenanya cocok untuk pertunjukan musik mulai dari musik skala kecil hingga konser simfoni oleh komposer seperti Bruckner. Garis-garis kayu lebar di dinding dan langit-langit memberikan tatanan ritme tertentu pada tampilan visual.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Aula terkecil, dengan 550 kursi, adalah aula multi-fungsi dan terletak di utara. Akustik yang dikontrol secara elektronik memastikan bahwa waktu gema dapat disesuaikan dengan variabilitas tak terbatas. Skenario panggung yang berbeda untuk pertunjukan musik, balet, dan teater serta peragaan busana dapat dibuat dengan bantuan platform angkat.

Guangxi Culture & Art Center, Nanning

Tiga bangunan tempat disatukan oleh atap yang seolah-olah mengambang. Mirip dengan fasad, tampak sebagai struktur besar kisi-kisi, yang telah dibangun dengan substruktur rangka baja dan panel aluminium dilipat putih sebagai penutup. Jika dilihat dari tepi Sungai Yong yang berlawanan atau dari pendekatan melalui Jembatan Nanning, bentuk putih cemerlang dari pusat kebudayaan Nanning dan provinsi Guangxi yang luar biasa ini tampak penuh percaya diri, berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Tergantung pada sudut pandangnya, siluet bangunan berubah secara dinamis, membangkitkan asosiasi dengan formasi karst alami yang sangat khas dari lanskap Guangxi.

Denah

屏幕快照_2018-09-05_09.54.21屏幕快照_2018-09-05_09.53.59

Potongan

屏幕快照_2018-09-05_09.57.10屏幕快照_2018-09-05_09.56.49

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://www10.aeccafe.com/blogs/arch-showcase/2018/10/18/guangxi-culture-art-center-in-china-by-gmp-architects/

https://www.archdaily.com/901449/guangxi-culture-and-art-center-gmp-architects/5b8f4b50f197cc30e00000fa-guangxi-culture-and-art-center-gmp-architects-section-of-the-concert-hall

http://www.arquitecturaviva.com/en/Info/News/Details/12787

 

BAB II – METODE KRITIK (KRITIK ARSITEKTUR)

Dalam tugas ini penulis akan menggunakan metode normative terukur.

  • Metode Normatif Terukur

Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya secara teknis :

  1. Stabilitas Struktur
  • Daya tahan terhadap beban struktur
  • Daya tahan terhadap benturan
  • Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan
  • Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem
  1. Ketahanan Permukaan Secara Fisik
  • Ketahanan permukaan
  • Daya tahan terhadap gores dan coretan
  • Daya serap dan penyempurnaan air
  1. Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan
  • Kebersihan dan ketahanan terhadap noda
  • Timbunan debu

Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan.

Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “Man- Environment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

Persepsi Visual Lingkungan Fisik

Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

Sikap Umum Terhadap Aspek Lingkungan Fisik

  • Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi.
  • Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

Perilaku Yang Secara Jelas Dapat Diobservasi Secara Langsung Dari Perilaku Manusia.

Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb.

Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan.

Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.

BAB I – PENDAHULUAN (KRITIK ARSITEKTUR

Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah.

Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah.Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.

Kritik arsitektur merupakan tanggapan dari hasil sebuah pengamatan terhadap suatu karya arsitektur. Disitu orang merekam dengan berbagai indra kelimanya kemudian mengamati,memahami dengan penuh kesadaran dan menyimpannya dalam memori dan untuk ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan,ungkapan dan penggambaran dari benda yang diamatinya. Di dalam arsitektur terdapat 6 macam kritik arsitektur yaitu sebagai berikut :

  1. Kritik Deskriptif

Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota. Dimana pendekatan deskriptif ini lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jka kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan. Metode deskriptif ini tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekedar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya. Metode kritik deskriptif memiliki 3 jenis, antara lain:

  1. Depictive Criticism(Gambaran Bangunan)
  2. Dynamic(secara Verbal)
  3. Process(secara Prosedural)
  4. Biographical Criticism(Riwayat Hidup)
  5. Contextual Criticism( Persitiwa)

 

  1. Kritik Normatif

Kritik normatif merupakan mengkritisi sesuatu baik abstrak maupun konkrit sesuai dengan norma, aturan, ketentuan yang ada. Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip.

Melalui suatu prinsip, keberhasilan kualitas lingkungan buatan dapat dinilai. Suatu norma tidak saja berupa standard fisik yang dapat dikuantifikasi tetapi juga non fisik yang kualitatif. Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi. Kritik normatif perlu dibedakan dalam 4 metode, antara lain:

  • Metode Doktrin

Satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip tak terukur.

  • Metode Sistemik

Suatu norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan

  • Metode Tipikal

Suatu norma yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik

  • Metode Terukur

Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif

 

  1. KRITIK TIPICAL

Kritik tipikal (Typical Criticism) merupakan sebuah metode kritik yang termasuk pada Kritik Normatif (Normative Criticism). Kritik tipikal yaitu metode kritik dengan membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya, dalam hal ini bangunan publik. Adapun elemen dalam kritik tipical, antara lain:

  1. Structural(Struktur)

Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan material dan pola yang sama:

  • Jenis bahan
  • Sistem struktur
  • Sistem Utilitas dan sebagainya.
  1. Function(Fungsi)

Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama:

  • Kebutuhan pada ruang kelas
  • Kebutuhan auditorium
  • Kebutuhan ruang terbuka dsb.
  1. Form( Bentuk )

Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain. Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya, Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya. Keuntungan Kritik Typical adalah sebagai berikut :

  • Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu.
  • Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain
  • Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi.
  • Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama
  • Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain

 

Sementara itu kerugian kritik typical adalah sebagai berikut :

  • Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal
  • Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard
  • Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type
  • Tidak memeiliki pemikiran yang segar
  • Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

 

  1. Kritik Impresionis

Metode ini cenderung selalu berubah mengikuti perkembangan jaman dimana kritik-kritik yang ada umumnya cenderung mengambil suatu hal positif dari satu bangunan dan menerapkannya pada bangunan lain sebagai salah satu cara bereksplorasi. Kritik impresionistik dapat berbentuk:

  1. Caligramme: Paduan kata membentuk silhouette
  2. Verbal Discourse: Narasi verbal puisi atau prosa
  3. Painting: Lukisan
  4. Photo Image: Imagi foto
  5. Modification of Building: Modifikasi bangunan
  6. Cartoon: Fokus pada bagian bangunan sebagai lelucon

 

  • Keuntungan Kritik Impresionis
  • Membuat imajinasi tentang bangunan menjadi lebih bermakna
  • Merangsang orang untuk melihat lebih dalam ke arah makna dan arti bangunan
  • Membuat orang untuk melihat karya seni lebih teliti
  • Mampu meyederhanakan suatu analisis objek yang tadinya terasa kompleks
  • Membuat lingkungan lebih mudah dikenali

 

  • Kerugian Kritik Impreionis
  • Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur
  • Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain
  • Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung
  • Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur

 

  1. Kritik Interpretif

Kritik interpretif (Interpretive Criticism) yang berarti adalah sebuah kritik yang menafsirkan namun tidak menilai secara judgemental. Kritikus pada jenis ini dipandang sebagai pengamat yang profesional. Bentuk kritik cenderung subyektif dan bersifat mempengaruhi pandangan orang lain agar sejalan dengan pandangan kritikus tersebut. Dalam penyajiannya menampilkan sesuatu yang baru atau memandang sesuatu bangunan dari sudut pandang lain. Terdapat 3 jenis kritik interpretatif, yaitu:

  1. Kritik Evokatif (Evocative)– Kritik yang Membangkitkan Rasa

Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotografis (gambar).

  1. Kritik Advokatif (Advocatory)– Kritik yang Membela, Memposisikan Diri sebagai Arsitek Objek Kritik

Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempersona.

  1. Kritik Impresionis(Imppressionis Criticism) – Kritik Dipakai sebagai Alat untuk Melahirkan Karya Seni Baru

Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya.

Kritik impresionis dapat berbentuk:

  1. Caligramme: Paduan kata membentuk silhouette
  2. Verbal Discourse: Narasi verbal puisi atau prosa
  3. Painting: Lukisan
  4. Photo Image: Imagi foto
  5. Modification of Building: Modifikasi bangunan
  6. Cartoon: Fokus pada bagian bangunan sebagai lelucon

 

  1. Kritik Terukur

Kritik terukur menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu. Norma yang terukur digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini merupakan satu bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam yang diformulasikan untuk tujuan kendali rancangan arsitektural.

  1. Pengolahan melalui statistik atau teknik lain secara matematis dapat mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi arsitektur.
  2. Perbedaan dari kritik normatif yang lain adalah terletak pada metode yang digunakan yang berupa standardisasi desain yang sangat kuantitatif dan terukur secara amtematis.
  3. Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
  4. Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa:
  • Ukuran batas minimum atau maksimum
  • Ukuran batas rata-rata (avarage)
  • Kondisi-kondisi yang dikehendaki