KONSERVASI KAWASAN BELANDA DI JALAN PEMUDA DEPOK

Di Indonesia terdapat banyak bangunan peninggalan penjajahan Belanda dengan gaya-gaya kolonial. Salah satunya yaitu terletak di Depok, tepatnya di Jl. Pemuda, Depok, Pancoran Mas, Kota Depok. Di sepanjang jalan ini tersebar bangunan-bangunan dengan gaya kolonial yang hingga sekarang masih berdiri dan dilestarikan. Bangunan-bangunan tersebut diperkirakan dibangun pada saat Cornelis Chastelein, seorang Belanda yang datang ke Depok bersama budak-budaknya.

image001
Peta Kota Depok Tahun 1901

A. Sejarah

Bangunan bersejarah dengan gaya kolonial pada Kota Depok berlokasi di Jalan Pemuda atau dahulu disebut Jalan Gereja (Kerk Streat) merupakan salah satu jalan tua dengan nuansa kolonial yang masih cukup terasa dan menjadi area pelintasan utama penghubung antar rumah-rumah warga di Depok Lama. Jalan Pemuda pada masa kolonial Belanda merupakan pusat keramain dan cikal bakal Kota Depok, sehingga banyak peninggalan-peninggalan dari jaman penjajahan Belanda yang masih dapat ditemukan, khususnya peninggalan-peninggalan dari Cornelis Chastelein.

Cornelis Chastelein merupakan seorang dari Belanda yang datang ke Depok bersama budak-budaknya yang nantinya akan dimerdekakan melalui kristiani. Diperkirakan ia datang ke Depok pada tahun 1714 dan mulai saat itu mulai membangun bangunan-bangunan mulai dari rumah, tempat ibadah, sekolah, dan lain-lain dengan pusatnya di Jalan Pemuda. Pada jalan ini juga terdapat tiang telepon antik yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1900.

Secara arsitektural, bangunan-bangunan kolonial Belanda di Jalan Pemuda ini memperlihatkan arsitektur kolonial Belanda yang unik dan menarik. Hal tersebut dapat dilihat dari fasad bangunan yang masih mencirikan arsitektur khas kolonial dan bangunan yang dibangun pada jaman kolonial ini rata-rata memiliki bentuk bangunan yang simetris, bertembok tebal, dengan langit-langit yang tinggi, di bagian depan terdapat pilar-pilar dengan tata ruang terbuka, beratap perisai dengan beranda luas, pintu dan jendela berukuran besar, dan didominasi warna putih. Namun semakin bertambahnya tahun, terjadi penurunan fungsi dan fisik bangunan yang ditandai dengan beberapa bangunan kolonial Belanda yang berubah fungsi bahkan ada beberapa bangunan kolonial Belanda yang dihancurkan.

B. Karakter Bangunan

Pada Jalan Pemuda terdapat 14 bangunan bersejarah yang kini dilestarikan. Letak ke 14 bangunan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1, yaitu :

slide4.jpg
Gambar 1 : Masterplan Kawasan Kota Lama Jl. Pemuda Depok
  • Rumah Presiden Depok
  • Rumah Sakit Harapan
  • Rumah Warga 1
  • Restoran Khasanti
  • Rumah Yantu Jonathans
  • SDN Pancoran Mas 2
  • Tempat Penyimpanan Yakult
  • Rumah Percontohan Depok
  • Rumah Warga 2
  • Gedung Pertemuan Immanuel
  • GPIB Immanuel Depok
  • Rumah Warga 3
  • Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC)
  • SMPN 1 Depok

Dari ke 14 bangunan tersebut terbagi kembali menjadi 4 kategori bangunan berdasarkan tampilan bangunan dan fungsi bangunan. Kategori tersebut yaitu :

  • Kategori A

Bangunan dengan bentuk tampilan yang masih asli (tidak mengalami perubahan secara keseluruhan) dengan fungsi yang masih sama. Bangunan yang termasuk pada kategori ini yaitu Rumah Presiden Depok, SDN Pancoran Mas 2, Rumah tinggal 1 dan 2;

  • Ketegori B

Bangunan dengan bentuk tampilan yang masih asli (tidak mengalami perubahan secara keseluruhan) namun memiliki fungsi baru (berbeda dengan fungsi sebelumnya). Bangunan pada kategori ini yaitu Rumah Sakit Harapan, Sekolah Katarsis Indonesia dan YLCC.

  • Kategori C

Bangunan yang mengalami perubahan tampilan (berupa penggantian atau penambahan beberapa bagian) dengan fungsi yang masih asli. Bangunan yang termasuk pada kategori ini adalah GPIB Immanuel Depok, Rumah Tinggal 3 dan SMP 1 Depok.

  • Kategori D

Bangunan yang mengalami perubahan tampilan (berupa penggantian atau penambahan beberapa bagian) dengan fungsi baru (berbeda dengan fungsi sebelumnya). Bangunan pada kategori ini yaitu Restoran Khasanti 16, SMU Kasih dan Rumah Yantu Jonathans.

 

a) Karakter Visual Eksterior Bangunan

  • Massa Bangunan1553534648417

Massa bangunan pada ke-4 kategori di Jalan Pemuda didominasi dengan bangunan tunggal yang berbentuk kubus serta ketinggian bangunan yang rata-rata terdiri dari satu lantai bangunan dan proporsi perbandingan lebar bangunan lebih besar dibandingkan dengan tinggi bangunan.

  • Atap

1553534666866

Bentuk atap pada ke-4 kategori bangunan di Jalan Pemuda Depok mencirikan bangunan kolonial Belanda, yang berbentuk perisai atau limasan. Atap perisai yang diadaptasi dari bentuk rumah tradisional Jawa dan penyesuaian bentuk atap yang dibuat miring. Selain itu yang juga menjadi ciri dari bentuk atap pada ke-4 kategori bangunan di Jalan Pemuda adalah terdapat anak atap dengan bentuk yang beragam, seperti bentuk perisai, pelana, atap segi lima dan enam.

Letak anak atap terdapat dibagian depan atau samping bangunan yang juga berfungsi untuk menaungi ruangan yang menjorok kedapan. Perubahan yang terjadi, yaitu adanya penambahan atap perisai atau pelana pada massa tambahan yang terletak dibagian belakang bangunan serta perubahan material atap yang lebih baru. Namun atap yang mengalami perubahan struktur maupun bentuk secara total, dibuat tidak jauh berbeda dengan bentuk atap bangunan kolonial yaitu berbentuk perisai, agar tidak menghilangkan karakter bangunan di Jalan Pemuda sebagai bangunan peninggalan kolonial Belanda.

  • Dinding Luar

Slide19

Elemen dinding eksterior yang masih asli terbuat dari tembok bata memilki ketebalan dinding 15 dan 30 cm yang merupakan ciri dari bangunan kolonial Belanda. Profil plesteran sangat umum ditemukan pada dinding bangunan kolonial di Jalan Pemuda Depok. Profil plesteran ini berupa garis-garis yang menonjol pada permukaan dinding, biasanya mengelilingi badan bangunan dan seperti membagi-bagi bidang dinding.

Perubahan pada dinding eksterior adalah adanya penambahan dinding dengan ketebalan 15 cm pada massa tambahan yang terletak dibelakang bangunan yang dibuat menyatu dengan dinding bangunan utama, namun tetap tidak merusak bentuk, struktur dan material dinding yang lama, serta perubahan pada warna cat dinding. Dinding eksterior yang mengalami perubahan total, karena adanya perluasan bangunan sehingga merubah dinding eksterior yang ada.

  • Pintu

1553534688988

Elemen Pintu eksterior didominasi dengan jenis pintu jalusi atau krepyak dan bentuk pintu berdaun ganda yang berlapis dua, hal ini sesuai dengan perkembangan arsitektur abad ke-20. Penggunaan jalusi pada pintu adalah ciri arsitektir tropis, sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap iklim tropis agar udara masuk ke dalam rumah. Serta pada bagian atas pintu terdapat lubang angin atau ventilasi dari kayu yang menyatu dengan kusen pintu.

Ornamen pada lubang angin seragam, ada yang berupa jalusi, berbentuk geometri persegi dan persegi panjang yang membentuk sebuah pola, ada juga yang berupa garis diagonal yang membentuk pola belah ketupat. Selain menggunakan jalusi, beberapa pintu juga menggunakan hiasan kaca patri.

Terdapat pintu tambahan yang terletak pada massa tambahan yang berupa pintu berdaun tunggal, yang memiliki bentuk pintu yang berbeda dengan pintu asli. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan pintu eksterior, yaitu mengalami perubahan pada bentuk dan material pintu yang sudah tidak sama dengan aslinya ataupun dibuat serupa dengan aslinya, serta terdapat penambahan dan letak pintu baru.

  • Jendela

1553534698596

Jendela eksterior yang masih asli juga didominasi dengan jenis jendela jalusi atau krepyak. Bentuk jendela berdaun ganda dan berlapis dua. Bagian luar jendela berupa jalusi atau krepyak dan bagian dalam jendela menggunakan hiasan kaca patri atau kaca transparan. Terdapat juga bentuk jendela berdaun ganda dan tunggal yang tidak berlapis dua, dengan ornamen pada jendela berupa jalusi atau krepyak.

Selain menggunakan jalusi, beberapa jendela juga menggunakan kaca patri. Perubahan pada jendela ekterior yaitu terdapat penambahan jendela baru pada massa tambahan, bentuk jendela baru biasanya berdaun tunggal ataupun berbentuk jendela mati yang memiliki bentuk yang berbeda dengan jendela asli. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan jendela, yaitu mengalami perubahan pada bentuk dan material yang sudah tidak sama dengan aslinya ataupun dibuat serupa dengan aslinya, serta terdapat penambahan dan letak jendela baru.

  • Kolom

1553534708387

Kolom pada bangunan memiliki bentuk yang sederhana (polos) dan didominasi dengan bentuk kolom persegi. Bentuk yang umumnya ditemukan berupa kolom dengan lapik (dasar) yang berpelipit. Selain itu juga terdapat kolom-kolom yang memilki hiasan profil plesteran pada bagian bawah dan atasnya yang sederhana.

Profil plesteran ini berupa garis-garis persegi panjang yang memberi kesan geometris. Selain kolom yang terbuat dari cor beton, juga terdapat tiang-tiang kayu dan tiang besi yang dipakai sebagai penyangga atap. Perubahan yang terjadi pada kolom yaitu perubahan warna cat pada kolom. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan kolom, yaitu perubahan bentuk dan material kolom serta terdapat penambahan kolom baru pada beberapa bagian.

  • Fasad

Komposisi fasade bangunan dari ke-4 kategori didominasi oleh bentuk geometri persegi panjang dan bentuk atap yang menangui bangunan. Kategori kesinambungan dari ke empat kategori memiliki kesinambungan pada ornamen yang menghiasi pintu, jendela dan kolom, sedangkan simetri dari ke empat kategori dapat dibedakan menjadi kelompok simetris dan asimeteris, antara lain:

  • Simetris, yaitu pada SDN Pancoran Mas 2, Kantor YLCC, rumah tinggal No. 51, GPIB Immanuel Depok, dan SMU Kasih.
  • Asimetris, yaitu pada rumah tinggal No. 11, rumah tinggal No. 45, rumah tinggal No. 52, Sekolah Katarsis Indonesia dan Restoran khasanti 16.
berusia-128-tahun-bangunan-sekolah-peninggalan-belanda-di-depok-rusak-berat-kSMvElTvx8
SDN Pancoran Mas 2 Depok

b) Karakter Visual Interior Bangunan

  • Dinding Interior

Dinding interior yang masih asli terbuat dari tembok bata memilki ketebalan dinding 15 dan 30 cm yang merupakan ciri dari bangunan kolonial Belanda. Ornamen pada dinding interior berupa lis garis horizontal pada bagian bawah dinding dengan dilapisi cat atau material ubin dan keramik.

Perubahan pada dinding interior adalah adanya penambahan dinding bata atau dinding partisi pada massa utama atau massa tambahan, serta perubahan warna cat dinding. Dinding interior yang mengalami perubahan total, karena adanya perubahan pada bentuk denah, sehingga terdapat penambahan dinding interior yang disesuaikan dengan bentuk denah baru

  • Denah

Secara keseluruhan denah pada ke-empat kategori bangunan mengalami perubahan. Perubahan yang tidak terlalu besar yaitu penambahan massa tambahan pada bagian belakang bangunan yang menyatu dengan bangunan utama, namun tidak merubah bentuk denah asli,serta terdapat penambahan ruang, seperti kamar mandi pada bangunan utama.

Perubahan yang paling besar, yaitu perluasan pada beberapa bagian angunan serta penambahan ruang yang lebih luas dengan membuat bangunan menjadi dua lantai, sehingga perubahan tersebut telah merubah denah dan bentuk asli bangunan.

  • Lantai

Pada ke-4 kategori bangunan bentuk lantai sudah mengalami perubahan secara keseluruhan, baik dari material, bentuk dan warna pada lantai. Material yang digunakan adalah keramik polos, dengan ukuran dan warna yang beragam. Namun masih terdapat beberapa bangunan dengan lantai yang masih asli. Lantai yang masih asli menggunakan ubin PC motif dan polos dengan ukuran 20×20 cm. Warna ubin yang sering digunakan adalah abu-abu dan kuning. Warna-warna lain seperti hijau, merah atau hitam biasanya digunakan sebagai variasi, yang disusun untuk membentuk bingkai pada bagian tepinya.

Pada ubin bermotif yang digunakan biasanya adalah motif-motif geometris dengan variasi bentuk, seperti pilin berganda, meander atau pinggir awan dan motif bunga. Serta terdapat ubin bermotif geometris dengan variasi bentuk, yang membentuk permadani pada bagian tengah ruangan. Ubin berpola permadani memiliki tiga jenis motif ubin yang berbeda untuk dipasang di bagian tengah, pinggir dan sudut. Ubin pada bagiann pinggir mempunyai desain khusus dan disusun menjadi bingkai, yang mengelilingi bagian tengah.

  • Plafon

Plafon pada ke-empat kategori bangunan sudah tidak asli dan mengalami perubahan, baik material, bentuk dan warna pada plafon. Awalnya plafon berupa gedeg (anyaman bambu), kemudian diganti dengan material seperti eternit, triplek dan gypsum. Kecuali pada rumah tinggal 2, masih ditemukan plafon asli berupa gedeg (anyaman bambu) pada beberapa ruang.

  • Pintu

Pintu-pintu interior tidak memiliki dua lapis daun pintu seperti pintu eksterior, namun tetap berupa dua daun pintu dan terdapat pintu berdaun tunggal. Bentuk daun pintu interior didominasi dengan ornamen geometri persegi dan persegi panjang, dengan material pintu terbuat dari kayu dan kaca patri.

Pada bagian atas pintu juga terdapat lubang angin atau ventilasi dari kayu yang menyatu dengan kusen pintu. Ornamen pada lubang angin seragam, ada yang berbentuk geometri persegi dan persegi panjang yang membentuk sebuah pola, ada juga yang berupa garis diagonal yang membentuk pola belah ketupat.

Terdapat pintu tambahan yang terletak pada massa tambahan yang berupa pintu berdaun tunggal. Beberapa bangunan yang mengalami perubahan pintu interior, yaitu mengalami perubahan pada bentuk dan material pintu yang sudah tidak sama dengan aslinya ataupun dibuat serupa dengan aslinya, serta terdapat penambahan dan letak pintu baru.

c). Karakter Spasial Bangunan

Fungsi ruang

  • Bangunan kategori A dan C memiliki fungsi bangunan dan fungsi ruang yang tidak berubah sejak awal berdiri, namun terdapat penambahan ruang.
  • Bangunan kategori B dan D memiliki fungsi bangunan dan fungsi ruang yang sudah berubah serta terdapat penambahan ruang untuk menunjang fungsi baru. 2.

Organisasi Ruang

  • Hubungan ruang dari ke empat kategori bangunan memiliki kesamaan hubungan ruang yaitu ruang-ruang yang saling berdekatan. Namun terdapat penambahan hubungan ruang pada beberapa rumah, seperti rumah tinggal 2, Sekolah Katarsis Indonesia, YLCC, dan SMU Kasih. Penambahan yang terjadi yaitu terdapat penambahan ruang di dalam ruang sehingga hubungan ruang menjadi ruang di dalam ruang.
  • Alur sirkulasi dari ke empat kategori bangunan alur sirkulai yang mendominasi yaitu alur sirkulai linier dan alur sirkulasi grid.

Orientasi Ruang

  • Arah orientasi ruang pada bangunan utama dari ke empat kategori bangunan tidak mengalami perubahan.orientasi ruang berbeda sesuai dengan fungsi bangunannya, pada bangunan rumah tinggal menghadap ke ruang keluarga dan ruang makan, pada sekolah mengahdap ke dalam (ruang kelas), sedangkan bangunan publik, seperti kantor yayasan dan gereja mengahdap ke ruang yang berada di tengah. Orientasi ruang pada massa tambahan mengarah ke bangunan utama.

Orientasi Bangunan

  • Dari ke empat kategori bangunan memiliki arah orientasi bangunan yang sama dan tidak pernah berubah, yaitu mengarah ke Jalan Pemuda Depok.

 

C. Kesimpulan

Karakter visual pada ke empat kategori bangunan sangat dipengaruhi oleh elemen-elemen bangunan yang menjadi ciri bangunan kolonial Belanda. Pada karakter spasial dari ke empat kategori bangunan juga memiliki kesamaan pada tiap elemen yang menjadi ciri dari bangunan kolonial Belanda di Jalan Pemuda Depok. Berdasarkan arahan pelestarian pada ke-4 kategori, terdapat dua arahan pelestarian yang mendominan, yaitu arahan pelestarian preservasi dan arahan pelestarian rehabilitasi.

Bangunan bergaya kolonial Belanda di Jalan Pemuda kini banyak terdapat perubahan mulai dari bentuk dan material pada pintu dan jendela, serta penambahan ruang baru, pintu dan jendela pada ruang-ruang baru. Pada elemen lantai dan plafon juga mengalmi perubahan material, sehingga memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan aslinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/08/28/pembangunan-kawasan-kota-tua-depok-segera-terwujud-429374

http://ariesmarafanirasyid.blogspot.com/2018/06/konservasi-arsitektur-bab-3_7.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Cornelis_Chastelein

https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2016/10/21/jejak-sejarah-depok-terserak-di-jalan-pemuda-382824

https://media.neliti.com/media/publications/116001-ID-pelestarian-bangunan-kolonial-belanda-di.pdf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s