Konservasi Arsitektur Pada Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung

Gedung merdeka adalah gedung bersejarah yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955. Kini gedung ini digunakan sebagai museum yang memamerkan berbagai benda koleksi dan foto Konferensi Asia-Afrika yang merupakan cikal bakal Gerakan Non-Blok pertama yang pernah digelar disini tahun 1955.

Museum Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu museum yang berada di kota Bandung. Museum ini merupakan memorabilia Konferensi Asia Afrika. Museum ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gedung Merdeka. Secara keseluruhan Gedung Merdeka memiliki dua bangunan utama, yang pertama disebut Gedung Merdeka sebagai tempat sidang utama, sedangkan yang berada di samping Gedung Merdeka adalah Museum Konferensi Asia Afrika sebagai tempat memorabilia Konferensi Asia Afrika.

 

SEJARAH

GEDUNG MERDEKAMG_8744

Societeit Concordia terletak di Jalan Asia Afrika No. 65, Bandung. Pembangunan bangunan Societeit Concordia atau yang sekarang dikenal sebagai Gedung Merdeka, berjalan seiring dengan rencana perpindahan ibu kota Hindia Belanda dari kota Batavia ke Bandung (1920). Untuk mendukung rencana tersebut, maka diwajibkan mendirikan fasilitas-fasilitas umum, seperti sekolah, stasiun, kantor pemerintahan, bank, pasar, bioskop, dan tempat hiburan serta infrastruktur kota.

Gedung Merdeka dibangun atas prakarsa para pengusaha Belanda, pemilik kebun teh, perwira, pembesar dan kalangan lain yang berasal dari Belanda serta berdomisili di Bandung. Gedung tersebut dijadikan sebagai tempat perkumpulan. Mereka mendirikan suatu perkumpulan yang bernama Societiet Concordia pada tanggal 29 Juni 1879, yang awalnya bertujuan sebagai tempat sosial, rekreasi, dan hiburan. Lokasi perkumpulan sebelumnya terletak di Warung De Vries.

Bangunan Societiet Concordia dibangun pada tahun 1895. Setelah bangunan tersebut selesai dibangun, perkumpulan Concordia berpindah tempat dari Warung De Vries dengan nama “Concordia”. Pada tahun tersebut tempat ini hanya berupa bangunan sederhana, yang sebagian dindingnya terbuat dari papan, dan penerangan halamannya memakai lentera minyak tanah. Bangunannya dibangun seperti layaknya warung kopi, karena sesuai dengan tujuannya, yaitu “…… de bevordering van gezellig verkeer” yang artinya sebagai tempat pertemuan, dimana mereka biasa berkumpul, duduk-duduk sambil minum teh. Pada tahun 1920, bangunan tersebut dibangun kembali dengan gaya arsitektur modern (Art Deco) yang fungsional dan lebih menonjolkan struktur. Arsitektur bangunannya dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Kegunaan gedung ini berubah menjadi gedung pertemuan “super club” yang paling mewah, lengkap, eksklusif, dan modern di Nusantara.

Societeit Concordia mengalami perombakan pada tahun 1940 dengan gaya arsitektur International Style, dengan arsitek A.F. Aalbers. Arsitek tersebut memiliki aliran yang berbeda, yaitu Nieuw Bouwen, sehingga bentuk bangunannya berbeda dari bangunan aslinya. Bangunan gaya arsitektur ini bercirikan dinding tembok plesteran dengan atap mendatar. Tampak depan bangunan berupa garis dan elemen horizontal, sedangkan bagian gedung bercorak kubistis. Pada masa pendudukan Jepang gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan.

 

Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 – 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. disini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya.

Dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia (1954) yang menetapkan Kota Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Concordia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut. Pada saat itu Gedung Concordia adalah gedung tempat pertemuan yang paling besar dan paling megah di Kota Bandung . Dan lokasi nya pun sangat strategis di tengah-tengah Kota Bandung serta dan dekat dengan hotel terbaik di kota ini, yaitu Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger

Dan mulai awal tahun 1955 Gedung ini dipugar dan disesuaikan kebutuhannya sebagai tempat konferensi bertaraf International, dan pembangunannya ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat yang dimpimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso, dan pelaksana pemugarannya adalah :

  • Biro Ksatria, di bawah pimpinan 

    R. Machdar Prawiradilaga

  • Alico, di bawah pimpinan M.J. Ali 3) PT. AIA, di bawah pimpinanR.M. Madyono

 

300px-Gedung.Merdeka

 

Pada tahun 1965 di Gedung Merdeka dilangsungkan Konferensi Islam Asia Afrika. Pada tahun 1971 kegiatan MPRS di Gedung Merdeka seluruhnya dialihkan ke Jakarta . Setelah meletus pemberontakan G30S, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan sebagai tempat tahanan politik G30S. Pada bulan Juli 1966, pemeliharaan Gedung Merdeka diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat, yang selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tiga tahun kemudian, tanggal 6 Juli 1968, pimpinan MPRS di Jakarta mengubah surat keputusan mengenai Gedung Merdeka (bekas Gedung MPRS) dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induknya, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak di bagian belakang Gedung Merdeka masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS.

Pada Maret 1980 Gedung ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25. Pada puncak peringatannya diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua.  Meskipun peringatan itu bersifat nasional, namun dalam kesempatan tersebut diundang pula tokoh-tokoh dari negara-negara Asia Afrika.

Ruang-Utama-Gedung-Merdeka-KAA-2015-464x241

Pada puncak acara peringatan, diresmikan berdirinya Museum Konperensi Asia Afrika oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto. Seluruh Gedung Merdeka ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai lokasi Museum Konperensi Asia Afrika, sebagaimana yang tertera dalam Prasasti Peresmian Museum Konperensi Asia Afrika serta Surat Keputusan Bersama Menteri Luar Negeri serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980 dan 1986.

MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA BANDUNG

gedung-merdeka

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 sampai dengan 24 April 1955 lalu mencapai kesuksesan besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia.

Karena adanya keinginan dari para pemimpin bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk mengetahui tentang Gedung Merdeka dan sekitarnya tempat Konferensi Asia Afrika berlangsung, hal ini membuat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M memiliki ide untuk membangun sebuah museum. Ide tersebut disampaikannya pada forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian museum ini diresmikan pada tanggal 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika.

Museum ini merupakan bukti bahwa Indonesia pernah berhasil diperhitungkan oleh warga dunia dalam kiprah internasionalnya. Di saat usia merdeka negara Indonesia masih belia, Indonesia sudah bisa membuat sebuah perkumpulan di mana dapat membuat pola pikir negara-negara yang masih terjajah ingin merdeka.

 

ARSITEKTUR GEDUNG

Jika dilihat lebih cermat arsitek C.P.W Schoemaker memberikan signature style Art Deco miliknya berupa selubung kaca lampu dekoratif yang terpasang pada area facade depan dari pintu masuk Gedung Merdeka. Tahun 1940 Societeit Concordia kembali mengalami perombakan dengan langgam arsitektur yang lebih baru pada zamannya yaitu Streamline Deco dengan bantuan arsitek A.F. Aalbers.

Tampak depan bangunan terdiri dari garis dan elemen horizontal yang menerus, sesuai dengan karakteristik dari Streamline Deco yang memanfaatkan garis dan bentuk-bentuk yang lebih dinamis dan asimetris dibandingkan dengan langgam Art Deco yang lebih rigid. Desain facade dari gedung kedua ini menggunakan layout denah ruangan berbentuk lingkaran seperti pada ruangan yang terletak pada sudut jalan. Secara bentuk kedua bangunan ini secara implisit menggambarkan fitur feminin dan maskulin pada wujud bangunan.

 

Ruang Lingkup

1). Pameran Tetap

Museum Konperensi Asia Afrika memiliki ruang pameran tetap yang memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Selain itu dipamerkan juga foto-foto mengenai :

  • Peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Konferensi Asia Afrika;
  • Dampak Konferensi Asia Afrika bagi dunia internasional;
  • Gedung Merdeka dari masa ke masa;
  • Profil negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika yang dimuat dalam multimedia.

Dalam rangka menyambut kunjungan Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi X Gerakan Nonblok tahun 1992 di mana Indonesia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut dan menjadi Ketua Gerakan Nonblok, dibuatlah diorama yang menggambarkan situasi pembukaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

MUSEUM_KONFERENSI_ASIA_AFRIKA

 

Penataan kembali Ruang Pameran Tetap “Sejarah Konperensi Asia Afrika 1955”

Dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 2005 dan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika 1955 pada 22 – 24 April 2005, tata pameran Museum Konperensi Asia Afrika direnovasi atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda. Penataan kembali Museum tersebut dilaksanakan atas kerja sama Departemen Luar Negeri dengan Sekretariat Negara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh Vico Design dan Wika Realty.

 

Rencana Pembuatan Ruang Pameran Tetap “Sejarah Perjuangan Asia Afrika” dan Ruang Identitas Nasional Negara-negara Asia Afrika (2008)

Departemen Luar Negeri RI mempunyai rencana untuk mengembangkan Museum Konperensi Asia Afrika sebagai simbol kerja sama dua kawasan dan menjadikannya sebagai pusat kajian, pusat arsip, dan pusat dokumentasi. Salah satu upayanya adalah dengan menambah beberapa ruang pameran tetap, yang memamerkan sejumlah foto dan benda tiga dimensi mengenai Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP) serta berbagai materi yang menggambarkan budaya dari masing-masing negara di kedua kawasan tersebut. Pengembangan museum ini direncanakan terwujud pada April 2008, bertepatan dengan Peringatan tiga tahun Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika.

2). Perpustakaan

Untuk menunjang kegiatan Museum Konperensi Asia Afrika, pada 1985 Abdullah Kamil (pada waktu itu Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London) memprakarsai dibuatnya sebuah perpustakaan.

Perpustakaan ini memiliki sejumlah buku mengenai sejarah, sosial, politik, dan budaya Negara-negara Asia Afrika, dan negara-negara lainnya; dokumen-dokumen mengenai Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya; serta majalah dan surat kabar yang bersumber dari sumbangan/hibah dan pembelian.

Bersamaan dengan akan diperluasnya ruang pameran tetap Museum Konperensi Asia Afrika pada April 2008, perpustakaan pun akan dikembangkan sebagai pusat perpustakaan Asia Afrika yang proses pengerjaannya dimulai pada 2007. Perpustakaan ini diharapkan akan menjadi sumber informasi utama mengenai dua kawasan tersebut, yang menyediakan berbagai fasilitas seperti zona wifi, bookshop café, digital library, dan audio visual library.

3). Audio Visual

Seperti juga perpustakaan, ruang audio visual dibuat pada 1985. Keberadaan ruang ini juga diprakarsai oleh Abdullah Kamil. Ruangan ini menjadi sarana untuk penayangan film-film dokumenter mengenai kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya, serta film-film mengenai kondisi sosial, politik, dan budaya dari negara-negara di kedua kawasan tersebut.

TAHAP PEMUGARAN

Museum KAA diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980, sebagai puncak peringatan 25 tahun KAA. Saat ini Museum KAA berada di bawah Kementerian Luar Negeri, menjadi UPT dari Direktorat Diplomasi Publik. Museum KAA menempati Gedung Merdeka, yang hingga saat ini menjadi milik DPR/MPR, dan berada di bawah pengawasan Sekretariat Negara. Pengelolaan gedung tersebut di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Museum KAA memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

42.-Museum-Konferensi-Asia-Afrika-Bandung

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://situsbudaya.id/gedung-merdeka-bandung/

http://edupaint.com/jelajah/arsitektur-nusantara/7589-arsitektur-museum-asia-afrika-bandung.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Merdeka

http://reyhanzidnyy.blogspot.com/2016/03/konservasi-gedung-merdeka.html

https://situsbudaya.id/museum-konferensi-asia-afrika-bandung/

http://kdratna.blogspot.com/2012/06/konservasi-arsitektur-museum-kaa.html

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s